Rupiah Terus Menguat di Tengah Melemahnya Sederet Mata Uang Asia

Penulis: Martha Ruth Thertina

1/2/2019, 14.18 WIB

Rupiah tercatat sebagai mata uang Asia dengan penguatan paling besar terhadap dolar AS, yaitu mencapai 3,02% sepanjang tahun ini (year to date).

Rupiah
Donang Wahyu|KATADATA
Petugas penukaran mata uang merapihkan uang yang hendak ditukar dengan mata uang asing di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta.

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut. Pada perdagangan di pasar spot Jumat (1/1) ini, rupiah mampu menguat meskipun sederet mata uang Asia berbalik melemah terhadap dolar AS. Rupiah bertengger di kisaran Rp 13.900 per dolar AS.

Rupiah kembali ke kisaran Rp 13.900 per dolar AS mulai Kamis (1/2), setelah terus berada di atas 14.000 per dolar AS sejak Juni tahun lalu bahkan sempat menyentuh level 15.200 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah Gubernur bank sentral AS, Jerome Powell, menyatakan akan sabar dalam memutuskan soal keberlanjutan kenaikan bunga acuan AS. 

(Baca: Keputusan The Fed Tahan Bunga Menopang Penguatan Tajam Rupiah)

Saat berita ini ditulis pada Jumat (1/2) siang, nilai tukar rupiah berada di level 13.955 per dolar AS, menguat 0,13% dibandingkan level penutupan sehari sebelumnya, atau total 1,24% dalam dua hari perdagangan. Pergerakan rupiah pada Jumat ini berbanding terbalik dengan sederet mata uang Asia lainnya.

Beberapa mata uang Asia tercatat mengalami pelemahan, yaitu yuan Tiongkok 0,64%, Won Korea Selatan 0,57%, diikuti baht Thailand 0,44%, dolar Singapura 0,27%, peso Filipina 0,1%, dan dolar Taiwan 0,08%. Di sisi lain, ringgit Malaysia dan rupee India menguat bersama rupiah, yaitu masing-masing 0,27% dan 0,05%, begitu juga yen Jepang dan dolar Hong Kong menguat masing-masing 0,01%.

Dengan perkembangan ini, rupiah tercatat sebagai mata uang Asia dengan penguatan paling besar sepanjang tahun ini (year to date). Rupiah menguat 3,02%, diikuti baht Thailand 2,98%, yuan Tiongkok 2,03%, dolar Singapura 1,01%, ringgit Malaysia 0,92%, yen Jepang 0,77%, dan peso Filipina 0,59%. Sementara itu, rupee India tercatat melemah paling tajam 1,84%, diikuti won Korea Selatan 0,73%, dolar Taiwan 0,64%, dan dolar Hong Kong 0,17%.

(Baca: Likuiditas Global Mengetat, Rupiah Diramal Tembus 15.100/US$ pada 2020)

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam mengatakan, penguatan rupiah masih didukung oleh aliran masuk dana asing ke pasar modal domestik. “Investor asing nampaknya masih lebih memilih menempatkan dananya di pasar keuangan indonesia yang menawarkan return yang menarik dan harga yg masih relatif murah di tengah pelemahan ekonomi global,” kata dia kepada katadata.co.id, Jumat (1/2).

Ia memperkirakan kondisi ini masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan selama tidak ada perkembangan baru yang secara signifikan memunculkan harapan perbaikan ekonomi global sehingga investor asing tergerak memindahkan kembali investasinya ke negara maju.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha