Harga Minyak Brent Naik 1,15% Terdorong Pengetatan Pasokan

Penulis: Arnold Sirait

7/2/2019, 08.56 WIB

Para produsen yang dikenal sebagai OPEC+ mulai memotong produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) dari bulan lalu.

minyak
Katadata

Harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) naik pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Kenaikan ini didorong oleh tanda-tanda kuatnya permintaan Amerika Serikat (AS) untuk produk-produk penyulingan dan pengetatan pasokan minyak mentah global.

Minyak Brent untuk pengiriman April, naik 1,15%, menjadi US$ 62,69 per barel. Brent sebelumnya jatuh ke terendah sesi US$ 61,05 per barel.

Sementara minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, 0,65% menjadi US$ 54,01 per barel. Capaian itu naik dari terendah sesi US$ 52,86 per barel.

Data pemerintah Amerika Serikat pada Rabu (6/2) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah domestik naik lebih rendah dari yang diperkirakan pada minggu lalu, sekalipun ketika kilang-kilang meningkatkan produksi. Stok meningkat 1,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 1 Februari, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan 2,2 juta barel.

Stok bensin meningkat 513.000 barel, lebih rendah daripada yang diantisipasi, sementara stok sulingan turun lebih besar dari yang diperkirakan 2,3 juta barel. "Permintaan distilat (sulingan) meningkat tajam pekan lalu karena cuaca dingin yang ekstrem, yang berkontribusi pada penurunan stok distilat," kata analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Pelaku pasar pun telah fokus pada tanda-tanda pengetatan pasokan minyak mentah global, setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya memulai kesepakatan pada Januari untuk memangkas produksi.

Para produsen yang dikenal sebagai OPEC+ mulai memotong produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) dari bulan lalu untuk mencegah kelebihan pasokan baru, dan OPEC telah mengirimkan hampir tiga perempat dari pemotongan yang dijanjikannya, sebuah survei Reuters menunjukkan pekan lalu.

Sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak negara Venezuela juga dapat menaikkan harga, meskipun mereka belum memicu kenaikan tajam. Sanksi-sanksi tersebut bertujuan untuk memblokir penyuling-penyuling AS dari membayar ke akun PDVSA yang dikendalikan oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Namun, dolar AS yang lebih kuat membatasi kenaikan harga minyak pada Rabu (6/2) karena komoditas berdenominasi greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. "Meskipun beberapa peralihan di WTI di atas resistensi kami sebelumnya sebesar US$ 55, pasar terus menyusut kembali sebagian besar di bawah tekanan dolar yang kuat minggu ini," Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, mengatakan dalam sebuah catatan.

 (Baca: Imbas Kondisi Global, Harga Minyak Indonesia Januari 2019 Mulai Naik)

Penyebab lain yang membuat kenaikan sedikit teredam adalah kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global yang lebih lemah, dan sengketa perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dalam pidato kenegaraannya bahwa kesepakatan perdagangan mungkin dilakukan dengan Tiongkok. Pejabat senior Amerika Serikat dan Tiongkok siap untuk memulai putaran pembicaraan perdagangan pekan depan. 

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha