Terkoreksi 0,41%, IHSG Kembali Turun ke Bawah Level 6.500

Penulis: Happy Fajrian

11/2/2019, 18.15 WIB

Sejumlah sentimen dari domestik dan eksternal menarik turun IHSG ke bawah level 6.500. Investor asing membukan penjualan bersih saham Rp 132,90 miliar.

Bursa
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Ilustrasi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan saham hari ini, Senin (11/2), dengan koreksi sebesar 0,41% ke level 6.495. IHSG untuk kedua kalinya turun ke bawah level 6.500 setelah berhasil menembus level psikologis tersebut pada akhir Januari 2019 kemarin.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia hari ini relatif sepi dengan total transaksi saham hanya mencapai Rp 7,82 triliun dari 14,39 miliar saham yang ditransaksikan sebanyak 474.252 kali oleh investor. IHSG bergerak pada kisaran 6.494,13 hingga level tertingginya hari ini pada 6.535,18.

Sebanyak 172 saham kinerjanya menghijau, 232 saham memerah, dan 128 saham bergerak mendatar. Sementara itu investor asing membukukan penjualan bersih saham pada pasar reguler sebesar Rp 17,28 miliar, dan Rp 115,62 miliar pada pasar tunai dan negosiasi. Sehingga totalnya menjadi Rp 132,90 miliar.

Saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing hari ini yaitu PT Astra International Tbk (ASII) mencapai Rp 183,6 miliar. Saham berikutnya yang paling banyak dilego investor asing nilainya terpaut jauh dari ASII, di antarnya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp 30,3 miliar, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Rp 25,6 miliar, serta PT United Tractors Indonesia Tbk (UNTR) Rp 20,4 miliar.

(Baca: Sektor Aneka Industri Terkoreksi Dalam, IHSG Turun 0,09% di Sesi I)

Di tengah arus keluar modal asing di pasar saham, beberapa saham masih diburu oleh investor asing di antaranya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp 189,5 miliar, serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 91,1 miliar.

Beberapa sentimen dari dalam dan luar negeri pengaruhi pergerakan IHSG hari ini. Analis Indopremier Sekuritas Mino mengatakan, sentimen domestik berasal dari data neraca pembayaran Indonesia (NPI) 2018 yang defisit US$ 7,1 miliar sedangkan dari sisi eksternal sentimen negatif datang dari terkoreksinya beberapa harga komoditas seperti CPO, nikel, dan batu bara.

"Sepertinya ada pengaruh dari data NPI tersebut karena rupiah hari ini juga melemah kembali ke level di atas Rp 14.000 per dolar AS. Untuk sepekan prediksi IHSG masih bisa positif," papar Mino di Jakarta, Senin (11/2).

Berdasarkan indeks sektoral, hanya dua sektor yang hari ini bergerak positif yaitu infrastruktur yang naik 0,69% dan perdagangan naik 1,11%. Sedangkan dari delapan sektor yang memerah, enam sektor di antaranya terkoreksi lebih dari 1%.

Sektor-sektor tersebut yaitu aneka industri dengan koreksi paling dala 1,65%, tambang anjlok 1,53%, manufaktur koreksi 1,05%, pertanian turun 1,04%, industri dasar turun 1,22%, serta properti turun 1,21%. Lainnya, sektor konsumer turun 0,8% dan keuangan turun 0,16%.

(Baca: Pasca Diakuisisi Semen Indonesia, Holcim Ganti Nama dan Rombak Direksi)

Sentimen eksternal dari perkembangan perundingan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang masih penuh dengan ketidakpastian juga mempengaruhi pergerakan IHSG dan bursa saham di Asia lainnya. Kendati dibayangi potensi eskalasi perang dagang, mayoritas bursa saham di Asia bergerak naik.

Indeks Strait Times berhasil naik 0,13%, Shanghai naik paling kencang setelah perdagangan saham berlanjut pasca libur tahun baru Imlek sebesar 1,36%, Hang Seng naik 0,71%, Kospi naik 0,17% dan KLCI naik 0,17%. Sementara itu PSEi turun 0,12%, sedangkan Nikkei hari ini libur.

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha