Pengguna Internet Bisa Jadi Pasar Potensial Produk Perbankan

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Pingit Aria

12/2/2019, 08.00 WIB

Pengguna digital banking naik 1,6 kali lipat dari 2014 hingga 2017.

Perbankan
Arief Kamaludin|KATADATA

Kajian McKinsey menunjukkan, pengguna internet merupakan target pasar potensial bagi perbankan. Sebab, masyarakat yang aktif secara digital lebih banyak membeli produk perbankan ketimbang yang tidak.

"Populasi yang aktif secara digital membeli produk perbankan dua kali dalam setahun. Sementara yang kurang aktif menggunakan internet hanya 1,5 kali setahun," ujar Perwakilan McKinsey & Company Indonesia, Guillaume de Gantes di Jakarta, Senin (11/2). 

Menurutnya, perbankan di Tanah Air sudah menyasar pengguna internet. Hal itu terbukti dari penetrasi digital banking yang naik dari 36% di 2014 menjadi 58% di 2017. Artinya, ada kenaikan 1,6 kali lipat.

Kenaikan ini lebih tinggi ketimbang Tiongkok yang hanya 1,5 kali lipat pada periode yang sama. Kenaikan penetrasi digital banking di Filipina dan Vietnam pun hanya 1,1 kali dalam tiga tahun.

(Baca: McKinsey Indonesia Dorong Kerja Sama Bank dan Fintech)

Penetrasi perbankan digital di Indonesia telah meningkat secara signifikan sejak 2014, didorong oleh penggunaan smartphone. Pengguna internet banking di Indonesia tumbuh 1,7 kali lipat dari tahun 2014 yang sebesar 21%, sedangkan pada tahun 2017 sebesar 35%.

Namun, penetrasi digital banking di India kenaikannya hingga 3,1 kali lipat dari 18% di 2014 menjadi 56% di 2017. Begitu pula dengan Thailand, kenaikkannya dua kali lipat menjadi 36% di 2019.

Adapun, kepemilikan terhadap produk perbankan di Indonesia berdasarkan penghasilan penduduk, yakni penduduk berpenghasilan tinggi (10,1%) paling banyak membeli produk keuangan mulai dari tabungan, kartu (debit dan kredit), pinjaman, investasi, hingga asuransi.

Sementara penduduk berpendapatan menengah (5,6%), lebih banyak membeli produk tabungan, kartu, dan pinjaman. Sedangkan, penduduk menengah ke bawah (2,2%) hanya membeli produk tabungan.

(Baca: Kalah dari Vietnam, Penetrasi Fintech Indonesia Diproyeksi Baru 15%)

Pada kajian ini, McKinsey mengumpulkan data dari 17 ribu responden yang berasal dari 15 negara di kawasan Asia Pasifik. Di antaranya meliputi Selandia Baru, Australia, Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Taiwan, Hongkong, Myanmar,  India, Cina, Korea Selatan, dan Jepang.

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha