Organisasi Nelayan Anggap Visi Misi Jokowi Lebih Komprehensif

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Hari Widowati

14/2/2019, 15.14 WIB

Beberapa visi-misi Jokowi sebagai petahana yang dibangun lebih taktis dan memiliki keberlanjutan dari pembangunan sektor ini sejak lima tahun lalu.

Jokowi Nelayan
Kris | Biro Pers Sekretariat Kepresidenan
Kelompok nelayan menilai visi-misi pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin di sektor perikanan lebih komprehensif dibandingkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

 

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyebut visi misi perikanan yang dicanangkan pasangan calon (paslon) presiden 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin lebih komprehensif ketimbang paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal ini terlihat dari beberapa visi-misi Jokowi sebagai petahana yang dibangun lebih taktis dan memiliki keberlanjutan dari pembangunan sektor ini sejak lima tahun lalu.

Beberapa visi yang dianggap lebih jelas adalah revitalisasi pembangunan sarana prasarana logistik perikanan, seperti membangun pelabuhan dan gudang. Lalu ada pula pengembangan industri pangan serta infrastruktur pendukungnya. Visi-misi lainnya adalah pengembangan bank mikro nelayan, program lanjutan penanganan pencurian ikan, dan pengembangan perikanan budidaya.

Selain itu, Jokowi-Ma'ruf juga akan mengintegrasikan pengaturan ruang darat dan laut. Menurut KNTI, hal ini akan mengurangi potensi konflik yang melibatkan nelayan, misalnya dalam pembangunan pelabuhan hingga anjungan minyak lepas pantai. "Secara objektif lebih komprehensif jika kami perbandingkan visi-misi," kata Ketua Harian KNTI Marthin Hadiwinata, di Jakarta, Kamis (14/2).

Adapun visi-misi paslon nomor 02 dianggap hanya mengulang kerja petahana saja. Misalnya, program kredit perbankan untuk nelayan hingga pembangunan infrastruktur maritim. Keunggulan pasangan Prabowo-Sandiaga hanya terlihat pada jaminan harga pangan yang menguntungkan nelayan. Namun, hal tersebut tidak dielaborasi dengan jelas.
"Jadi menduplikasi upaya pemerintah sebelumnya," kata Marthin.

Meski demikian, Marthin menganggap kedua calon belum banyak menyinggung banyak mengenai kelembagaan pengelolaan pangan yang berasal dari perikanan. Menurut dia, perlu suatu pengaturan distribusi pangan dan ketersediaan ikan demi menekan harga dan inflasi.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), harga ikan segar menjadi penyumbang inflasi dengan bobot 0,06%. "Saya berpikir harus ada lembaga (badan) sejenis Bulog," kata Marthin.

(Baca: Menteri Susi Klaim Stok Ikan Melimpah karena Penenggelaman Kapal Asing)

Tantangan Sektor Perikanan

Tantangan sektor perikanan ke depan sangat besar. Apalagi dengan pemberantasan pencurian ikan, terbuka luas potensi penangkapan ikan. Bahkan, pada 2018 potensi ikan tangkap mencapai 13,1 juta ton. Sayangnya, produksi perikanan pada Oktober 2018 hanya mencapai 6,5 juta ton. "Tantangannya bagaimana meningkatkan produksi ikan dengan sumber daya yang ada," ujar dia.

Sedangkan Anggota Dewan Pembina KNTI Chalid Muhammad mengungkapkan, masih ada empat ancaman perikanan yang harus disikapi kedua paslon. Pertama, kecenderungan penambangan dan ekstraksi laut dalam yang mencemari laut. Kedua, keselamatan nelayan dan keluarganya dari bencana.

Ketiga, ketiadaan informasi dalam menghadapi anomali cuaca. Keempat, keberlanjutan profesi nelayan. "Karena banyak anak-anak nelayan yang masih muda tidak mau melanjutkan jadi nelayan karena minimnya penghasilan," kata Chalid.

Berangkat dari tinjauan visi-misi kedua capres, KNTI memberikan empat rekomendasi. Pertama, dalam debat kedua Komisi Pemilihan Umum (KPU) diharapkan memberikan pertanyaan agar kedua calon fokus meningkatkan produksi dengan memastikan keterlibatan nelayan. Kedua, baik Jokowi maupun Prabowo harus mempertajam visi dan misinya.

Ketiga, kedua calon membuka dialog seluas-luasnya dengan nelayan. "Keempat agar nelayan aktif memilih untuk memastikan presiden terpilih nanti benar-benar berkomitmen menyejahterakan keluarga nelayan," kata Marthin.

(Baca: Pengusaha Perikanan Minta KKP Segera Revisi Pembatasan Ukuran Kapal)

 

 

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha