Tekan Tarif Tol, Pemerintah Kaji Opsi Perpanjangan Konsesi

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

14/2/2019, 10.23 WIB

Pemerintah tengah mengkaji sejumlah opsi sebagai solusi menurunkan tarif tol, salah satunya melalui perpanjangan konsesi.

Jokowi Tol Jatim
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (tengah) dan Seskab Pramono Anung (kanan) meninjau ruas jalan Trans Jawa di Interchange Bandar kilometer 671, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/12/2018). Peresmian tujuh ruas jalan tol Trans Jawa oleh Presiden Joko Widodo menandai terhubungnya Tol Merak hingga Surabaya.

Pemerintah tengah mengkaji sejumlah opsi sebagai solusi menurunkan tarif tol. Kajian ini dilakukan merespons keluhan tarif tol, sehingga banyak pengemudi truk logistik memilih jalur alternatif  dibandingkan melewati tol baru yang harganya lebih mahal.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan salah satu solusi menekan tarif tol adalah melalui perpanjangan konsesi. “Kalau konsesinya maksimum, harga bisa diturunkan lagi,” kata Basuki di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/2).

(Baca: TKN Bela BUMN soal Tudingan Mahalnya Tarif Tol Trans Jawa)

Konsesi jalan tol adalah masa kepemilikan investor yang berpengaruh terhadap pengembalian modal investasi. Semakin singkat waktu konsesi, maka investor akan menetapkan tarif tol tinggi supaya modal cepat kembali.

Menurutnya,  pihaknya bersama Badan Usaha Penatur Jalan Tol (BPJT) dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sedang membahas secara detail tentang penetapan tarif tol, termasuk  formulasi jika berdasarkan hitungan per kilometer. Namun, banyak tol baru di daerah yang bisa jadi tarifnya lebih mahal karena jaraknya lebih jauh.

Basuki juga menyebu tarif tol yang tinggi menyebabkan banyak sopir truk mengalihkan rutenya ke jalur nontol ketika hendak menuju jalur yang jauh. Namun itu dilakukan untuk menyiasati penghasilan mereka agar tidak tergerus pengeluaran tol. “Pengemudi ingin punya pendapatan lebih jadi memilih keluar tol,” ujar Basuki.

(Baca: Pembelaan Istana Soal Kritik LRT dan Tol Trans Jawa)

Contohnya, tol Jakarta-Cikampek masih lebih murah karena biaya per kilometernya rendah dan jaraknya tidak terlalu jauh. Namun, ketika masuk tol berikutnya, pengemudi memilih untuk menggunakan jalan umum untuk menghemat pengeluaran.

Basuki mengungkapkan, pemerintah sebenarnya sudah memberikan diskon untuk penggunaan tol, tetapi masih banyak keluhan harganya mahal. “Jalan tol itu alternatif, kalau terlalu mahal bisa gunakan kapal,” kata Basuki.

Pelaku usaha juga harusnya lebih efektif dalam memilih transportasi logistik. Lalu lintas tol yang longgar tentu akan membuat perjalanan menjadi lebih singkat sehingga secara hitungan ekonomi biayanya menjadi lebih murah.

(Baca: Tarif Dinilai Mahal, Luhut: Tol Trans Jawa Beri Pilihan bagi Pengguna)

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita meminta PT Jasa Marga untuk menurunkan tarif tol Trans Jawa. Para pengusaha logistik menilai tarif tol dari Jakarta ke Surabaya untuk kendaraan jenis truk atau golongan lima tarifnya bisa mencapai jutaan rupiah. "Kan truk itu totalnya sampai Rp 1,5 juta itu ke Surabaya, kalau ukuran truknya makin besar lagi bisa sampai Rp 2 juta," kata Zaldy.

Jika jalan tol dibangun untuk menurunkan biaya logistik, seharusnya tarif tol bisa diturunkan. Menurut Zaldy, idealnya tarif untuk truk sekitar Rp 800 ribu untuk jarak Jakarta-Surabaya.

 

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha