Energi Mega Persada Refinancing Utang US$ 50 Juta

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

5/3/2019, 21.26 WIB

Refinancing utang akan menghemat beban bunga utang yang harus dibayarkan hingga US$ 4 juta per tahun.

Malacca Strait PSC-Energi Mega Persada
Energi Mega Persada
Salah satu aset milik PT Energi Mega Persada Tbk., Malacca Strait PSC. Energi Persada mendapat persetujuan pemegang saham untuk refinancing utang sekitar US$ 50 juta.

PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) akan melakukan pendanaan kembali (refinancing) untuk membayar utang pokok senilai US$ 50 juta atau sekitar Rp 700 miliar kepada PST Finance Ltd. Pihak yang bakal menjadi kreditur baru tersebut adalah Elektra Asset Ltd.

Vice President Investor Relations & Corporate Communications Energi Mega Persada Herwin W. Hidayat mengatakan, mereka akan menarik pinjaman dari Elektra Asset dengan jumlah sekitar US$ 50 juta hingga US$ 60 juta. Pinjaman PST Finance yang telah jatuh tempo ini akan digantikan dengan utang kepada Elektra Asset yang bertenor dua tahun.

Dengan pinjaman baru tersebut, Herwin mengatakan, mereka dapat mengurangi beban bunga hingga US$ 4 juta per tahun. Itu karena bunga dari utang kepada Elektra Asset lebih rendah dari bunga pinjaman kepada PST Finance. Dalam utang kepada PST Finance, bunganya mencapai sekitar 22%-23%, sementara bunga dari pinjaman kepada Alektra Asset hanya sebesar 15%.

(Baca: Anak Usaha Bumi Resources Minerals Peroleh Izin Tambang di Gorontalo)

 

"Diharapkan (penghematan beban bunga) ini dapat menambah nilai bagi pemegang saham karena tidak terlalu membebani laporan rugi laba ke depan," kata Herwin ketika ditemui di Bakrie Tower, Jakarta pada Selasa (5/3).

Pada kesempatan yang sama, Direktur dan CFO Energi Mega Persada Edoardus Ardianto mengatakan, keuntungan dari penghematan beban bunga tersebut, otomatis bakal digunakan untuk membiayai operasional mereka. Selisih beban bunga pinjaman tersebut menjadi keuntungan yang bisa dialihkan untuk pembiayaan-pembiayaan lainnya.

Dia pun menegaskan, dana utang dari Elektra Asset yang diharapkan bisa masuk pada akhir triwulan I atau awal triwulan II ini tidak akan menambah utang perusahaan. "Pinjaman baru untuk melunasi pinjaman lama, jadi tidak ada penambahan utang, malah berkurang," kata Edo.

Ada pun, untuk mendapatkan pinjaman dari Elektra Asset, mereka menjaminkan aset-asetnya dengan meminta restu dari pemegang saham. Untuk itu mereka menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dengan agenda persetujuan untuk menjaminkan seluruh atau sebagian aset tersebut.

Aset-aset yang dijaminkan yaitu saham-saham mereka di EMP Gerbang Limited, EMP Korinci Baru Limited, EMP Malacca Strait S.A., RHI Corporation, PT Imbang Tata Alam, PT Tunas Harapan Perkasa, PT EMP Gelam, PT EMP Semberah, Energi Mega Persada Inc., dan Energy Mega Persada Pte. Ltd.

(Baca: Antam Ditawari 26% Saham Nusa Halmahera Minerals oleh Newcrest)

Sebelumnya, mereka telah dua kali menggelar RUPSLB untuk membahas hal ini. Namun, kedua acara tersebut tidak memenuhi kuorum sehingga dibatalkan. Dalam RUPSLB ketiga ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan batas kuorum minimal 60% dari pemegang saham dan pada RUPSLB hari ini, pemegang saham yang datang sebanyak 60,4%. Dari pemegang saham yang datang tersebut, 98%-nya menyetujui langkah perusahaan menjaminkan aset-asetnya.

Sebagai informasi, hingga pertengahan tahun lalu, pinjaman jangka panjang Energi Mega Persada berkisar US$ 200 juta dengan porsi utang jangka pendek sebesar US$ 90 juta. Utang tersebut berkurang hingga pertengahan November tahun lalu, di mana utang jangka panjang menjadi US$ 170 juta dan utang jangka pendek menjadi US$ 80 juta.

Tiga Fokus Energi Mega Persada Tahun ini

Herwin mengatakan, secara garis besar, tahun ini mereka memiliki tiga fokus. Pertama mereka akan menaikan produksi secara organik dari aset-aset mereka yang sudah ada, bukan karena akuisisi. Seperti meningkatkan produksi minyak di Malaca, gas di Bentu dan Kangean, dan minyak di Tonga. "Jadi, kalau ada kenaikan produksi, diharapkan pendapatan meningkat," kata Herwin.

Kedua, akan ada penurunan beban keuangan karena refinancing yang berhasil dilakukan bagian keuangan, sehingga ada penghematan biaya sebesar US$ 4 juta per tahun seperti dijelaskan sebelumnya. Harapannya, pendapatan naik disertai dengan turunnya beban bunga.

(Baca: Mulai 2020, 84 Kargo LNG Tangguh Diekspor ke Singapura)

Ketiga, sebelum September 2019 akan dilakukan penawaran umum terbatas (PUT) yang sudah direstui pemegang saham pada September tahun lalu. Pendanaan baru tersebut akan digunakan untuk pelunasan pinjaman dan ekspansi secara organik. "Jadi, mungkin itu tiga judul utama yg diakukan 2019," kata Herwin.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha