Kementan Sebut Harga Ayam Turun karena Kurangnya Permintaan

Penulis: Rizka Gusti Anggraini

Editor: Pingit Aria

7/3/2019, 13.13 WIB

Kementan mengimbau pengusaha lebih banyak mengekspor produknya sehingga tak hanya bergantung pada pasar domestik.

Ayam Broiler
Katadata

Harga ayam merosot hingga Rp 16 ribu per ekor dari normalnya, Rp 20-22 ribu per ekor. Setelah peternak menggelar unjuk rasa di depan Istana Presiden pada Selasa (5/3) lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) pun angkat bicara.

“Tidak ada kelebihan pasokan Day Old Chicken (DOC). Ini terjadi semata-mata karena permintaan yang turun pada bulan ini," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan, Kementan, I Ketut Diarmita, Rabu (6/3/2019).

Untuk mengatasinya, Kementan telah menyusun beberapa langkah. Di antaranya adalah mengimbau masing-masing pelaku usaha atau integrator memaksimalkan kapasitas Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan kapasitas Cold Storage.

Menurutnya, pasar untuk komoditas unggas di Indonesia saat ini didominasi fresh commodity yang bisa rusak dalam waktu dua hari. Maka, jika produk segar itu dijual dalam bentuk beku atau olahan, maka daging ayam diharapkan dapat bertahan lebih lama dengan harga yang lebih tinggi.

(Baca: Peternak Rugi, Harga Jual Ayam Tak Sebanding Biaya Pokok Produksi)

Ia juga meminta integrator untuk mengurangi penjualan ayam hidup. Dengan begitu, harga ayam di tingkat peternak diharapkan kembali normal.

Kemudian, Kementan juga mengimbau kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengatur dan mengawasi kegiatan budidaya ayam ras, mulai dari pendataan peternak hingga populasi di wilayahnya, baik peternak mandiri maupun milik integrator. 

Mulai, mulai 1 Maret 2019 Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mewajibkan para integrator menyampaikan laporan produksi DOC setiap bulan secara online, termasuk tujuan distribusinya.

"Dengan begitu nantinya kita akan mengetahui produksi DOC untuk budidaya internal integrator (on farm dan integrasi atau plasma) dan yang didistribusikan ke peternak mandiri," katanya.

(Baca: Merugi Rp 2 Triliun, Peternak Unggas Tuntut Perlindungan Usaha)

Untuk itu pula ia berharap agar para asosiasi peternak unggas untuk segera menyampaikan data peternak mandiri yang menjadi anggotanya, agar jelas yang mana peternak mandiri dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Selanjutnya, Kementan mengimbau agar para perusahaan integrator untuk terus meningkatkan ekspornya. Dengan begitu, produksi daging ayam yang sudah mencapai swasembada tidak hanya bergantung pada permintaan di dalam negeri.

Reporter: Rizka Gusti Anggraini

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN