Gubernur BI Jadi Prabu Dewa di Ketoprak Financial

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Sorta Tobing

9/3/2019, 15.00 WIB

Perry mengatakan, pagelaran ini bertujuan melestarikan seni budaya tradisional agar dapat mendongkrak sektor pariwisata.

perry warjiyo
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berlakon dalam pagelaran Ketoprak Financial berjudul “Prabu Siliwangi” di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan, Jumat malam (8/3).

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo berlakon dalam pagelaran Ketoprak Financial berjudul “Prabu Siliwangi”. Perry muncul sebagai sosok Prabu Dewa Wastu Kencana. Pagelaran tersebut berlangsung di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan, Jumat malam (8/3).

Lebih lanjut, pagelaran ini bertujuan untuk melestarikan seni budaya tradisional yang telah ada sejak pertengahan abad ke-18. Dengan lestarinya seni budaya tradisional dapat mendongkrak sektor pariwisata secara umum.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur BI menyampaikan tiga hal yang mendasari Bank Indonesia, Ketua LPS, Direktur Utama BCA, Direktur Utama BRI, dan Lembaga finansial lainnya turut berperan serta dalam pagelaran ini.

"Pertama, komitmen sektor finansial untuk melestarikan budaya Indonesia," ujar Perry dalam keterangan tertulisnya. Kedua, komitmen membantu para budayawan untuk terus mengembangkan kebudayaan Indonesia yang adiluhur. Ketiga, memperkuat sinergi antar sektor, tidak hanya dalam konteks perumusan kebijakan tetapi juga dalam memajukan budaya Indonesia.

Ketoprak Finansial adalah pagelaran seni tradisi ketoprak yang terdiri dari masyarakat keuangan, perbankan, dan pasar modal serta senior editor. Bekerjasama dengan Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang dan Ketoprak Jakarta Adhi Budaya.

Rupiah melemah

Sebelumnya Perry sempat menanggapi penurunan mata uang rupiah yang menembus level 11.300 per dolar AS. Ia menyebut pelemahan itu terjadi imbas penguatan dolar AS karena sejumlah faktor eksternal. "Dalam seminggu terakhir terjadi perkembangan di ekonomi global yang mendorong terjadinya risk off  terhadap sentimen di pasar keuangan global yang mendorong menguatnya dolar AS," kata dia siang kemarin di Kompleks BI, Jakarta.

Ia menjelaskan, membaiknya data manufaktur AS mengindikasikan adanya perbaikan ekonomi negara tersebut. Hal ini yang kemudian memberi sentimen positif terhadap pergerakan mata uang Negeri Paman Sam. Sentimen positif terhadap mata uang greenback tersebut juga seiring penurunan proyeksi ekonomi Eropa.

(Baca: Rupiah Jatuh ke Level 14.300/US$, Terlemah Dalam Dua Bulan)

Selain itu, Perry mengatakan kenaikan harga minyak dunia juga berdampak terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak terjadi karena berbagai faktor, seperti sanksi AS terhadap Venezuela, belum tercapainya kesepakatan antara AS dan Korea Utara terkait denuklirisasi, hingga belum adanya jalan keluar terkait Brexit.

Ke depan, BI akan terus memastikan nilai tukar rupiah tetap terjaga. Perry menyatakan pihaknya akan terus berada di pasar guna memastikan pasokan valuta asing (valas) terjaga dengan baik. "Kami terus memantau di pasar dan komitmen kami untuk jaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya," ujarnya.
 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha