Akhirnya, Laba Bersih BUMN Indonesia Kalahkan Malaysia

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

13/3/2019, 16.05 WIB

Pada 2018, BUMN Indonesia mencetak laba bersih Rp 188 triliun. Sedangkan BUMN Malaysia atau Khazanah rugi 6,3 miliar ringgit atau Rp 21 triliun.

Gedung BUMN
Katadata
Gedung Kementerian BUMN di Kawasan Jalan Kebon Sirih, Jakarta.

Lembaga Manajemen (LM) Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia menilai sepanjang 2018, kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia lebih unggul dibandingkan BUMN Malaysia, Khazanah. Capaian itu menjadi yang pertama kalinya dalam sejarah sejak reformasi 1998.

"Data kinerja perusahaan pelat merah yang dirilis Kementerian BUMN, menujukkan daya saing tersendiri jika dibandingkan terhadap BUMN di Malaysia (Khazanah) dan Singapura (Temasek)," kata Managing Director LM FEB UI, Toto Pranoto di Jakarta, Rabu (13/3).

Tahun lalu, BUMN dalam negeri membukukan laba bersih senilai Rp 188 triliun. Meski begitu, tahun ini pertumbuhan laba bersihnya tersebut diperkirakan hanya sebesar 1% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 186 triliun.

Pertumbuhan laba bersih BUMN pada 2017 mencapai 5,6% dari laba tahun sebelumnya Rp 176 triliun. Sementara pertumbuhan laba bersih di 2016 lebih tinggi lagi, mencapai 17,3% dibandingkan tahun 2015 senilai Rp 150 triliun.

(Baca: Pertumbuhan Laba Bersih BUMN Melambat)

Laba Bersih BUMN Meningkat disaat Kinerja Khazanah Menurun

Sementara, kinerja Khazanah tahun lalu justru mengalami penurunan. Untuk pertama kalinya, Khazanah mencatatkan kerugian sebesar 6,3 miliar ringgit Malaysia atau sekitar Rp 21 triliun (asumsi kurs Rp 3.330/ringgit) . Toto menilai, kondisi dinamika bisnis dan daya saing global cukup memberikan tekanan pada Khazanah.

Kinerja negatif Khazanah tahun lalu, juga dinilai dipengaruhi oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Sementara, menilik dari kondisi perekonomian Malaysia, penurunan kinerja Khazanah juga disebabkan oleh perubahan kondisi fundamental perusahaan yang kurang baik, volatilitas pasar yang meningkat, dan dipengaruhi adanya faktor perubahan regulasi.

Sementara, untuk kinerja Temasek, Toto menilai mereka relatif lebih stabil meski berada di tengah kondisi global yang penuh tidak kepastian tahun lalu. Selain itu, Toto juga mengatakan, bisnis Temasek juga relatif terus meningkat dibandingkan dengan BUMN milik Malaysia.

Kunci keberhasilan dari Temasek, menurut Toto dipengaruhi oleh portofolio yang sangat terdiversifikasi di seluruh dunia. "Lalu, adanya otonomi penuh pada model manajemen investment holding dan sudah memiliki talent management yang baik," kata Toto lebih rinci.

(Baca: Menteri Rini Targetkan Laba Bersih BUMN Tahun Ini Tembus Rp200 Triliun)

Dalam kajian LM FEB UI, akibat keterpurukan Khazanah sepanjang 2018, membuat pemerintah Malaysia sejak awal tahun ini mulai melirik model pengembangan BUMN seperti yang telah dilakukan di Indonesia. Perubahan manajemen Khazanah terlihat pada aspek yang fundamental, yakni pembedaan BUMN secara tegas antara sisi komersial dan pelayanan publik atau public service obligation (PSO).

Toto mengatakan, tantangan BUMN Indonesia ke depan terletak pada seberapa kuat mereka beradaptasi dengan model bisnis yang menekankan pada penempatan profesional pada pimpinan puncak BUMN alias Direktur Utama. Tantangan lain yaitu improvisasi pada otonomi manajemen, meningkatkan transparansi dengan cara masuk ke pasar modal di bursa, dan membangun paradigma pengelolaan portofolio.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha