Eksplorasi di Sumsel, Golden Eagle Temukan Cadangan 234 Juta Ton

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Martha Ruth Thertina

13/3/2019, 14.53 WIB

Perusahaan melakukan eksplorasi atas tiga area tambang di Sumsel. Biaya eksplorasi sepanjang September 2018 sampai Februari 2019 sebesar Rp 2,6 miliar.

Investigasi Batubara
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA

Perusahaan batu bara PT Golden Eagle Energy Tbk tengah melakukan eksplorasi tambang batu bara seluas 2.143 hektare (ha) di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Tambang batu bara ini merupakan milik anak usahanya yaitu PT Triaryani (TRA). Pihaknya menemukan cadangan terbukti sebesar 234 juta ton.

Wilayah konsesi TRA dibagi menjadi tiga area yaitu, Blok Malam 1, Blok Malam 2, dan Blok Betung. Kegiatan eksplorasi di tiga blok tersebut telah selesai dilakukan. Total sumber daya terukur sebesar 250 juta ton, sumber daya terunjuk 62 juta ton, dan sumber daya tereka 94 juta ton. Kemudian, cadangan terbukti sebesar 234 juta ton dan cadangan terkira sebesar 23 juta ton.

Saat ini, perusahaan tengah melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan di tiga area tersebut. Tujuannya, mendapatkan data tambahan untuk memperoleh pemodelan geologi yang lebih optimum dan perhitungan sumber daya dan cadangan dalam satu kesatuan untuk keseluruhan wilayah konsesi.

(Baca: Produksinya Dipangkas, Pengusaha Batu Bara Sesalkan Langkah Pemerintah)

"Kegiatan eksplorasi lanjutan ini juga dilakukan guna memperbaharui laporan sumber daya dan cadangan batu bara," demikian tertulis dalam laporan eksplorasi bulanan Golden Eagle Energy yang dipublikasikan sebagai keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa (12/3).

Dalam aktivitas eksplorasinya, perusahaan menggandeng PT Airlangga Inti Sejahtera untuk pengeboran. Sementara itu, untuk kegiatan logging geofisika dilakukan oleh PT Recsalog Geprima.

Selama masa eksplorasi September 2018 sampai Februari 2019, perusahaan itu telah melakukan pengeboran atas 18 lubang. Rinciannya, lima lubang pada September, kemudian 10 lubang pada Oktober, dan tiga lubang pada November. Sedangkan, kegiatan pengeboran tambahan tidak dilakukan sepanjang Februari 2019.

(Baca: Arutmin Setor Jaminan Pascatambang US$ 53 Juta untuk Lima Lokasi)

“Kegiatan eksplorasi difokuskan pada pengumpulan hasil pengujian sempel,” demikian tertulis. Biaya untuk eksplorasi lanjutan pada Februari 2019 ini tercatat sebesar Rp 247,5 juta. Dengan demikian, total biaya sepanjang September 2018-Februari 2019 sebesar Rp 2,6 miliar.

Selain memiliki Triaryani, Golden Eagle juga memiliki anak usaha lainnya yaitu PT International Prima Coal (IPC). IPC merupakan pemilik konsesi batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur. Mulai berproduksi secara komersial sejak tahun 2010.

Kapasitas produksinya terus meningkat mencapai 900 ribu ton pada tahun 2012 atau meningkat 61% dari tahun 2011. Adapun luas wilayahnya sebesar 3.238 Ha.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha