Kementerian ESDM Beri Rekomendasi Ekspor PT Smelting

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Sorta Tobing

13/3/2019, 05.00 WIB

Smelting akan mengelola 1,1 juta ton konsentrat tembaga dari PT Freeport Indonesia.

pertambangan

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan rekomendasi ekspor untuk PT Smelting sebesar 2.324 ton lumpur anoda untuk tahun ini.

Lumpur anoda merupakan produk samping atau sisa hasil pemurnian konsentrat tembaga. "Sudah keluar rekomendasinya," kata Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Yunus Saefulhak, kepada Katadata.co.id, Selasa (12/3).

Tahun ini Smelting akan mengelola konsentrat tembaga dengan volume yang sama seperti tahun lalu. Nilainya sebesar 1,1 juta ton konsentrat tembaga dari PT Freeport Indonesia (PTFI). Dalam satu ton tembaga tersebut bisa menghasilkan sekitar dua ribu lumpur anoda.

Selain lumpur anoda, perusahaan juga menghasilkan produk samping tembaga berupa katoda sebesar 291 ribu ton dengan tingkat kemurni 99,99%. Kemudian, produk sampingan asam sulfat sekitar 1,04 juta ton dan terak tembaga sekitar 805 ribu ton.

(Baca: Produksi Freeport Turun, Smelting Pastikan Pasokan Konsentrat Stabil)

Sebanyak 59% produksi katoda tembaga Smelting dijual ke luar negeri, sisanya 41% lagi untuk pasar dalam negeri. Untuk penjualan ke dalam negeri, paling banyak di pasok ke industri kabel. Sedangkan untuk pasar ekpsor, paling banyak ke negara Jepang dan Korea.

Produksi asam sulfat Smelting untuk kebutuhan industri pupuk dan terak tembaga di industri semen. Terak tembaga yang dihasilkan perusahaan mempunyai nilai ekonomis tinggi untuk pasir besi.

(Baca: Terus Bertambah, Kini 27 Smelter  Beroperasi di Indonesia)

PT Smelting merupakan pabrik pengelolaan bijih tembaga menjadi tembaga murni yang didirikan di Gresik, Jawa Timur pada Februari 1996. Sebagai pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) dan kilang tembaga pertama di Indonesia dengan sekitar US$ 500 juta untuk biaya konstruksi langsung.

Saham perusahaan ini dimiliki oleh Mitsubishi Materials Corporation sebesar 60,5%, PT Freeport Indonesia sebesar 25%, Mitsubishi Corporation Unimatal Ltd. sebesar 9,5% dan Nippon Mining and Metals Co.Ltd. sebesar 5,0%.

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN