Target Produksi BBM Kilang Plaju Tahun Ini Capai 36,3 Juta Barel

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Sorta Tobing

14/3/2019, 22.00 WIB

Perusahaan akan memakai rekayasa pengolahan minyak tak terpakai menjadi produk bernilai untuk mencapai target tersebut.

Kilang Minyak
KATADATA
Ilustrasi kilang minyak. Pertamina menargetkan produksi dari Kilang Plaju pada tahun ini sebesar 36,23 juta barel per tahun.

Pertamina Refinery Unit III (RU III) menargetkan produksi dari Kilang Plaju sepanjang 2019 mencapai 36,23 juta barel per tahun. Angka ini sedikit berkurang dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 36,3 juta barel per tahun.

General Manager Pertamina RU III Yosua IM Nababan mengatakan, produksi minyak tahun lalu naik sekitar tiga persen daripada 2017 yang hanya 35,2 juta barel per tahun.

Perusahaan akan memakai rekayasa pengolahan minyak tak terpakai (recovery waste oil) menjadi produk bernilai untuk mencapai target tersebut. “Penyumbang terbesar produksi adalah pemanfaatan waste oil menjadi mogas dengan kualitas prima,” kata Yosua dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/3).

Mogas adalah minyak hidrokarbon ringan untuk mesin pembakaran kendaraan bermotor. Teknik rekayasa minyak ini merupakan program terobosan yang dilakukan Pertamina, Tujuannya, menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) area Sumatera bagian selatan. Margin kilang pun naik menjadi Rp 128,3 miliar per tahun.

Di kilang petrokimia, Yosua melanjutkan, produksi bijih plastiknya mencapai 45.200 ton per tahun pada 2018. “Setara 102% dari target,” katanya.

Kilang Plaju juga sedang melakukan proyek green refinery, yaitu mengolah minyak sawit menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Proyek ini berjalan sejak akhir tahun 2018. Acuannya adalah studi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung.

(Baca: Tahun Depan, Kilang Dumai dan Balongan Olah Minyak Sawit Jadi BBM)

Hasil kajian itu menyebutkan kilang Plaju bisa memproduksi green gasoline. Komposisi minyak sawitnya 7,5%. Bahkan, porsinya bisa mencapai 100%.

Pada Januari lalu, kilang ini berhasil mencampur 20% minyak sawit ke BBM solar (B20), sesuai dengan amanat Peraturan Menteri ESDM Nomor 41 Tahun 2018. Ketika itu kilang Plaju dapat mengolah pasokan fatty acid methyl esters (FAME) dari pemasok dengan kapasitas 30 ribu sampai 40 ribu kiloliter per bulan.

(Baca: Produksi Green Diesel Hapus Impor Solar)

“Uji cobanya bertahap. Kami targetkan kilang dapat memproduksi bahan bakar ini dengan nilai oktan hingga 91,3,” katanya. Sebagai perbandingan, produk BBM Pertamax nilai oktannya mencapai 92 dan Pertamax Plus sebesar 95.

Kilang Plaju merupakan kilang BBM tua milik Pertamina. Pembangunannya dimulai pada 1930an. Kapasitasnya sekitar 12 5 ribu barel per hari. Letaknya di Palembang, Sumatera Selatan.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha