Jokowi Targetkan Tahun 2020 Pertumbuhan Ekonomi Mampu Capai 5,6%

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Agung Jatmiko

23/4/2019, 13.14 WIB

Pada sidang kabinet paripurna, pemerintah mengharapkan pertumbuhan ekonomi mampu mencapai level 5,6% tahun 2020 mendatang.

Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Presiden Joko Widodo (kiri) menyampaikan arahan saat Sidang Kabinet Paripurna tentang ketersediaan anggaran dan pagu indikatif 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/4/2019).

Pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu mencapai 5,6% pada 2020. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani usai menghadiri sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat. Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6% ini lebih tinggi 0,43% dibandingkan pencapaian sepanjang 2018 lalu.

"Presiden berharap kita bisa pacu pertumbuhan ekonomi sampai 5,6% dan menjaga tingkat inflasi di kisaran 2%-4% tahun depan." kata Sri Mulyani di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (23/4).

Selain membahas soal pertumbuhan ekonomi, sidang kabinet paripurna yang dipimpin oleh presiden juga membahas soal instrumen pembiayaan negara serta nilai tukar rupiah. Salah satu instrumen pembiayaan negara yang dibahas adalah Surat Perbendaharaan Negara (SPN), dimana tingkat suku bunga SPN tenor 3 bulan (SPN 3 bulan) ditargetkan akan berada di rentang 5%-5,3% tahun 2020 mendatang. Saat ini suku bunga SPN 3 bulan tercatat sebesar 5,798% secara end of periode atau 5,8% secara year to date (ytd).

(Baca: Jokowi Minta Belanja Barang Dikurangi pada APBN 2020)

Sementara, dari sisi nilai tukar rupiah, Sri Mulyani menjelaskan range nilai tukar masih bervariasi, karena tahun ini Kementerian Keuangan memakai asumsi Rp 15.000, namun saat ini sudah berada di level Rp 14.000. "Jadi kami akan menggunakan range yang masih lebar," kata Sri Mulyani.

Terkait dengan penerimaan negara dari sektor minyak dan gas, sidang kabinet juga membahas mengenai target harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP). Tahun 2020, rentang harga ICP ditargetkan akan berada di kisaran US$ 60-US$ 70 per barel. Hingga akhir Maret 2019, realisasi ICP tercatat sebesar US$ 63,6 per barel secara end of periode atau US$ 60,46 per barel ytd.

Untuk lifting minyak dan gas sendiri, target pemerintah masih setara dengan yang selama ini diproduksi Indonesia. Saat ini lifting minyak dan gas tercatat mencapai 720.400 barel per hari dan 1,03 juta barel setara minyak per hari ytd.

(Baca: Asumsi Makro Meleset, Pemerintah Dinilai Perlu APBN-P)

Untuk menunjang berbagai target tersebut, pemerintah masih akan bertumpu pada sektor konsumsi rumah tangga. Sri Mulyani mengatakan, tingkat konsumsi rumah tangga pada 2020 ditargetkan mampu mencapai 5,2%, serta ada pertumbuhan pula di sisi investasi, yang diharapkan dapat tumbuh mendekati 7,5%.

Sementara, ekspor diharapkan dapat tumbuh di sekitar 7%, dengan diiringi upaya menjaga laju impor berada di angka 6%. "Selain itu kami juga berharap sektor manufaktur bisa tumbuh di atas yang selama ini hanya 4-5%. Kami harapkan bisa lebih tinggi," kata Sri Mulyani.

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan