Pengusaha Mikro Minta Penyedia Layanan Uang Elektronik Siaga

Penulis: Tim Publikasi Katadata

24/4/2019, 12.17 WIB

Pengelola pasar modern dan kantin karyawan siap mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), asalkan penyedia uang elektronik siaga mendampingi di lapangan

GO-PAY
Katadata

Sulit bukan berarti tidak mungkin. Pepatah ini berlaku dalam banyak hal termasuk upaya penetrasi keuangan digital kepada para pelaku usaha mikro. Uang elektronik GO-PAY membuktikan bahwa pedagang pasar juga bisa dirangkul asalkan telaten.

Fenny Kurniasih selaku SPV Pasar Modern Town Market Tangerang menyatakan, pihaknya siap membukakan jalan bagi keuangan digital untuk menjangkau para pedagang mikro. Tapi, dia meminta perusahaan penyedia uang elektronik benar-benar siaga manakala terjadi kendala di lapangan.

“Saya memang syaratkan agar mereka (uang elektronik) yang masuk sediakan penanggung jawab yang siaga. Jangan maunya mudah masuk tetapi saat saya ada kendala, tim mereka susah dicari,” ucapnya kepada Tim Publikasi Katadata, di Tangerang, belum lama ini.

Syarat tegas tersebut berlaku kepada perusahaan penyedia alat pembayaran nontunai manapun, termasuk PT Dompet Anak Bangsa alias GO-PAY. Selain itu, Fenny sendiri juga melakukan pendampingan kepada para pedagang agar penetrasi keuangan digital berjalan tepat sasaran.

(Baca juga: Transaksi Nontunai Dongkrak Pendapatan Pedagang Pasar Modern)

Hal senada dikemukakan Koperasi Karyawan Sampoerna Strategic selaku pengelola Kantin Karyawan Sampoerna Strategic di Jakarta. Pengurus koperasi Budi Hendarto menyatakan, sekitar dua bulan awal pasca GO-PAY masuk, pemahaman pedagang kantin dalam menggunakan uang elektronik ini belum menyeluruh.  

Seiring berjalan waktu, berbagai tantangan di lapangan dapat diatasi berkat edukasi intensif. “Tim GO-PAY selalu memberikan pemahaman ke pedagang dan juga kepada pengunjung, misalnya maksud cashback itu apa,” ucap Budi.

Sementara itu, Vice President GO-PAY Micro Merchant Dewi Yulianti mengutarakan bahwa mengedukasi pelaku usaha mikro agar beralih dari transaksi tunai ke nontunai (cashless) tidak mudah. Pihaknya selalu menerjunkan sumber daya manusia (SDM) khusus untuk terlebih dulu memantau lokasi yang dibidik menjadi point of interest (PoI).

Upaya itu berbuah manis. Riset Financial Times 2018 menyebutkan, GO-PAY berhasil meningkatkan pemahaman 75 persen masyarakat Indonesia terkait layanan keuangan digital. Bank Indonesia juga melansir, Dompet Anak Bangsa adalah perusahaan teknologi finansial (tekfin) paling proaktif mendukung gerakan nontunai pada 2017.

(Baca juga: Cerita Kebiasaan Minum Teh Kaum Pekerja di Jakarta)

Saat ini, selain pusat kerumunan massa (pasar modern dan kantin karyawan) yang menjadi PoI, GO-PAY turut membidik jaringan waralaba tradisional menjadi mitranya. Contoh model bisnis ini adalah gerobak kuliner, kopi instan keliling, bakso, warung nasi, dan lain-lain. Tak heran, mitra terbanyak uang elektronik ini adalah pebisnis mikro.

Secara umum, porsi micro merchant merupakan yang terbesar dibandingkan dengan mitra segmen enterprise maupun bisnis kecil dan menengah. Sebesar 40 persen rekan GO-PAY adalah usaha mikro. Tidak hanya di bidang kuliner tetapi juga jasa, misalnya layanan cuci kendaraan.

Uang elektronik yang hadir sejak April 2016 tersebut menggandeng lebih dari 360.000 rekan usaha. Jumlah mitra mikro, kecil dan menengah (UMKM) sedikitnya 130.000 usaha serta diterima di lebih dari 40 pasar tradisional maupun modern. Di lokasi inilah GO-PAY banyak berinteraksi dengan pelaku usaha mikro.

Dewi menjelaskan, ciri khas micro merchant ialah sehari-hari mereka menerima uang tunai, berdagang menggunakan gerai atau lapak nonpermanen, serta lazimnya belum tersentuh layanan bank. “Mitra mikro ini besar karena memang keberadaannya banyak di sekeliling kita,” katanya.

GO-PAY merupakan alat pembayaran nontunai yang terintegrasi dengan aplikasi GOJEK. Uang elektronik ini bisa digunakan untuk bertransaksi di pusat perbelanjaan hingga lapak kaki lima.

(Baca juga: Saatnya Usaha Mikro Lebih Dekat dengan Bank)

Uang elektronik yang terintegrasi dengan aplikasi GO-JEK tersebut menyentuh 370 kota se-Indonesia. Beberapa kota besar yang dijajaki yaitu Jabodetabek, Makasar, Bandung, Surabaya, Medan, Lampung, dan Palembang.

“Kami hadir di kota besar karena ada GO-RIDE di sana. Jadi, penetrasi kami lebih mudah,” kata Dewi.

Sejak pertama kali muncul hingga sekarang, pengguna aktif GO-PAY naik 90 persen seiring dengan pertumbuhan transaksi mencapai 25 kali lipat. Tak heran, uang elektronik ini menjadi yang terbanyak digunakan di Tanah Air (berdasarkan hasil riset YouGov, Financial Times, dan DailySocial).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha