Kopi Gandja Jenderal Buwas

Penulis: Metta Dharmasaputra.

Editor: Metta Dharmasaputra

15/5/2019, 14.31 WIB

Begitu dipertandingkan, langsung juara dua kopi terbaik dunia.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso saat memperkenalkan Kopi Gandja di hadapan para Pemimpin Redaksi media massa,Selasa (14/5).
Katadata/Metta Dharmasaputra
Direktur Utama Bulog Budi Waseso saat memperkenalkan Kopi Gandja di hadapan para Pemimpin Redaksi media massa,Selasa (14/5).

Budi Waseso kembali bikin ‘sensasi’. Kali ini, di hadapan para Pemimpin Redaksi media massa, dia memperkenalkan Kopi Gandja.

Terbungkus dalam kemasan yang apik, tak tanggung-tanggung kopi itu pun dilabeli merek “Jenderal Buwas”. “Ini memang kopi yang saya buat,” katanya saat acara buka puasa bersama di kantor Bulog yang dipimpinnya, Selasa malam kemarin.

Budi Waseso yang dikenal dengan sapaan Buwas, memang seorang purnawirawan Komisaris Jenderal Polisi. Namanya sempat ramai jadi perbincangan ketika ia menangkap Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto, tak lama setelah dilantik sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Markas Besar Kepolisian RI.

Kali ini, pernyataannya soal kopi gandja itu yang sempat bikin kaget para hadirin. Maklum, sebelum didapuk menjadi Direktur Utama Bulog, ia menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

(Baca juga: Buwas: Ada Menteri yang Halangi Bulog Impor Bawang Putih)

Para hadirin baru kemudian terbahak, ketika Jenderal Buwas menjelaskan tentang arti kopi gandja itu. “Ini kepanjangan dari kombinasi Gayo and Jawa,” katanya. Sedangkan kata Jenderal, diambil dari kata general yang berarti umum, karena kopi yang akan diproduksi berasal dari seluruh nusantara. “Maka, jadilah namanya Kopi Nusantara Jenderal Buwas,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa kopi yang diproduksinya tergolong premium. Karena itu, harganya mahal dan diperuntukkan bagi pasar ekspor. Negara yang dituju saat ini adalah Belanda.

Menurut dia, sejumlah negara Eropa memang pasar yang menarik untuk kopi Indonesia. Ini dikarenakan kualitas kopi nusantara terbilang bagus. Terbukti, kopi yang diproduksinya itu ketika dipertandingkan sudah langsung dinobatkan sebagai juara dua kopi terbaik dunia.

Ia sendiri mengaku kaget, karena awalnya tak paham sama sekali seluk-beluk tentang kopi. Idenya hanya berawal dari tugasnya memberantas ladang ganja di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, saat menjabat sebagai Kepala BNN. “Ganja dari daerah ini termasuk yang terbaik di dunia,” kata Buwas.

(Baca juga: Jokowi Gelar Ratas untuk Pastikan Kesiapan Ramadan dan Lebaran 2019)

Penghasil utamanya adalah desa Agusen di kecamatan Blangkejeren yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Dulunya ganja ditanam di kawasan ini sebagai tanaman selingan pengusir hama untuk menjaga kualitas tembakau.

Nama Agusen kemudian mencuat ke permukaan ketika BNN pada 2014 menghanguskan 30 hektare ladang ganja di sana. “Saya lantas berpikir harus mencari sumber penghidupan lain bagi petani di sana. Kopi yang dihasilkan ternyata sangat potensial.”

Dari sinilah, kemudian ia menekuni dunia kopi. Seorang barista asal Italia pun diundang untuk membantunya. Apa langkah selanjutnya? Ia mengaku berencana untuk membuka kafe kopi. “Awalnya sekadar mau menolong, tapi Alhamdulillah kini malah jadi sumber rezeki baru,” ujarnya terkekeh.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan