Bos Adaro Komentari Film Sexy Killers hingga Kebutuhan Batu Bara

Penulis: Martha Ruth Thertina

16/5/2019, 09.56 WIB

Porsi besar batu bara dalam bauran energi dinilai beralasan. Batu bara tersedia, terjangkau dan polusinya semakin rendah dengan teknologi baru.

Garibaldi Thohir bos Adaro tanggapi Film Sexy Killers
Arief Kamaludin|KATADATA
Pengusaha nasional Garibaldi Thohir Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) dan Erick Thohir pendiri Mahaka Group, menyerahkan laporan data aset di DJP Wajib Pajak Besar Empat di Jakarta, Rabu, (14/09/2018).

Film dokumenter berjudul Sexy Killers sempat ramai menjadi pembicaraan beberapa waktu lalu. Film yang dirilis sebelum Pilpres 2019 itu bercerita tentang dampak negatif bisnis batu bara terhadap lingkungan. Selain itu, keterkaitan tokoh-tokoh politik yang bersaing dalam Pilpres dengan perusahaan batu bara.

Salah satu perusahaan yang disinggung dalam film Sexy Killers yaitu Adaro Energy. Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir mengaku tidak terusik dengan film tersebut. Ia sempat sedikit menonton film tersebut, namun tidak melanjutkan lantaran ternyata bukan produk jurnalistik yang mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik.

“Jurnalis kalau membuat berita harus cover both side, sumbernya harus dilihat dulu,” kata dia di Jakarta, Rabu (15/5) malam. Ia menilai film tersebut minim klarifikasi dan sarat unsur politik lantaran muncul sebelum Pilpres dan mengait-ngaitkan tokoh-tokoh politik. Maka itu, ia pun tidak menanggapi.

(Baca: Ragam Modus Batu Bara Ilegal di Kalimantan Timur)

Dalam soal isu lingkungan, pria yang akrab disapa Boy tersebut mengatakan semua pihak harus bijak. Ada kepentingan yang lebih besar dalam industri batu bara, yaitu pembangunan hingga devisa. Namun, ia meyakinkan, sebagai kontraktor tambang batu bara, perusahaannya taat terhadap regulasi termasuk dalam hal pemulihan lingkungan. “Negara, negara kita, masa kita hancurin,” ujarnya.

Bila mengacu pada Rencana Umum Penyediaan Listrik Nasional (RUPTL) 2019-2028, batu bara masih menjadi sumber energi dominan dengan porsi 54,6%. Menurut Boy, hal ini beralasan. Batu bara tersedia dan terjangkau. “Still the cheapest,” kata dia.

(Baca: PLTU Batang 2.000 MW Rampung 60%, Ditargetkan Beroperasi pada 2020)

Dengan teknologi baru, polusi dari pembangkit listrik batu bara juga bisa semakin rendah. Ia menyinggung tentang penggunaan batu bara ultra supercritical untuk pembangkit listrik. “Yang saya dengar lagi, Jepang sedang mau men-develop teknologi, study-nya sudah advance. Teknologi itu meng-capture emisi,” ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha