Serangan Siber Naik 12,5% di 2018, Paling Banyak dari AS dan Tiongkok

Penulis: Desy Setyowati

16/5/2019, 13.05 WIB

Platform yang paling rentan terkena serangan siber adalah website.

Serangan Siber, Ancaman Siber
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Perusahaan di bidang integrasi teknologi global, Dimension Data, mencatat kerentanan keamanan siber mencapai 16.555 kasus pada tahun lalu

Perusahaan di bidang integrasi teknologi global, Dimension Data, mencatat kerentanan keamanan siber mencapai 16.555  kasus pada tahun lalu. Jumlah tersebut naik 12,5% dibanding 2017. Alamat IP yang melakukan serangan siber paling banyak dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

General Manager Cybersecurity Dimension Data Neville Burdan menyebutkan, ada triliunan log dan milyaran serangan pada tahun lalu. Sebanyak 35% dari total serangan berasal dari AS dan Tiongkok. Serangan lainnya dari kawasan Timur Tengah dan Asia Pasifik. “Semua sektor perlu memperkuat keamanan siber, termasuk meyakinkan chief level organisasi mengenai pentingnya investasi strategis di bidang ini,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (16/5).

(Baca: Serangan Siber ke Indonesia Capai 12,9 Juta, Paling Banyak dari Rusia)

Ia menyampaikan, rerata tingkat kematangan keamanan siber dunia pada posisi yang mengkhawatirkan, yakni 1,45 dari lima. Peringkat ini ditentukan dengan pendekatan keamanan siber secara menyeluruh, mulai dari proses, metrik, dan perspektif strategis.

Platform yang paling rentan terkena serangan siber adalah halaman informasi alias website, yakni 32% dari total. Dimension mencatat, serangan siber ke situs naik dua kali lipat pada tahun lalu. Lalu, serangan siber khusus layanan sebesar 13% dan peretasan password 12% dari total.

Perusahaan di sektor keuangan dan teknologi memiliki tingkat kematangan keamanan siber yang tertinggi. Menurut dia, hal itu wajar, karena kedua industri tersebut yang paling sering dijadikan target serangan siber. Serangan siber ke kedua industri ini masing-masing 17% dari total.

(Baca: Serangan Siber Ancam Indonesia)

Jenis malware yang paling banyak digunakan untuk melakukan serangan pada tahun lalu adalah cryptojacking. Malware ini bertujuan untuk menginfeksi perangkat secara diam-diam untuk menambang mata uang virtual (cryptocurrency).

Informasi tersebut tertuang dalam laporan intelijen ancaman siber global 2019, yang dirilis oleh Dimension Data. Group Executive Cybersecurity Dimension Data Matthew Gyde menyampaikan, rendahnya tingkat kematangan keamanan siber disebabkan oleh ketidaksesuaian tindakan dengan kesedian perusahaan mengatasi serangan di dunia maya.

Dia mencatat, kesadaran para pimpinan di bidang keuangan, teknologi, manufaktur, dan kesehatan terhadap keamanan siber cukup tinggi. Namun, kesadaran saja tidak cukup. Menurutnya, setiap perusahaan perlu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang keamanan siber.

(Baca: Nomor Identitas Tunggal Kian Mendesak untuk Mencegah Peretasan)

 

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha