Ani Yudhoyono, 'Bunga Flamboyan' yang Mengiringi Karier SBY

Penulis: Dwi Hadya Jayani

Editor: Hari Widowati

7/6/2019, 09.00 WIB

Ani mendampingi SBY menghadapi masa-masa sulit sebagai prajurit, menteri, hingga menapaki dunia politik dan membangun Partai Demokrat.

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (keempat kanan) bersiap mengikuti upacara militer pelepasan jenazah almarhumah Ani Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/6/2019).
ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (keempat kanan) bersiap mengikuti upacara militer pelepasan jenazah almarhumah Ani Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/6/2019).

Kristiani Herrawati lebih dikenal sebagai Ani Yudhoyono setelah menikah dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Perjalanan hidupnya sebagai istri prajurit tidaklah mudah tetapi ia berpegang pada petuah kedua orang tuanya.

“Kamu anak duta besar, tetapi sekarang kamu sudah menjadi istri letnan. Maka berlakulah sebagai istri letnan,” pesan Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, setelah Ani menikah dengan SBY, seperti dikutip dari buku Kepak Sayap Putri Prajurit. Petuah dari sang papi merasuki hati Ani.

Meski telah berfirasat suatu saat nanti ia akan menjalani hidup sebagaimana kedua orang tuanya, Ani ragu akan kemampuannya menjadi istri seorang prajurit. Bagi Ani, menikahi seorang prajurit merupakan sebuah komitmen, di dalamnya bersemayam tanggung jawab untuk mengabdikan diri kepada bangsa.

Keputusan Ani menjadi istri seorang tentara terdengar aneh di antara teman-teman kuliahnya. Maklum, Ani dikenal sebagai sosok yang bersemangat mengejar mimpi untuk menjadi seorang dokter. Selain itu ia juga aktif dalam pergaulan di kampus. Usai melangsungkan pernikahan yang cukup unik karena bersamaan dengan pernikahan kedua saudaranya (Titiek dan Tuti), hatinya semakin mantap untuk menjadi istri sekaligus pendamping dan penyemangat SBY dalam tugasnya sebagai prajurit.

Sebelum menikah, hubungan SBY dan Ani sempat terpisah oleh jarak karena Ani mengikuti papinya yang bertugas menjadi duta besar Korea Selatan. SBY sering mengirimkan surat cinta secara rutin kepada Ani. Salah satu puisi yang sangat berkesan bagi Ani adalah puisi berjudul Flamboyan. Puisi ini berisi tentang perasaan seorang prajurit yang dibuat tersentuh oleh bunga flamboyan yang bermekaran di halaman kampus.

Ani tersenyum senang saat membaca surat ini. Meski di halaman Akademi Militer Magelang memang ditumbuhi banyak pohon flamboyan, tetapi ia menyimpulkan bunga flamboyan dalam puisi tersebut menceritakan tentang dirinya. Hal ini karena rumah keluarga Ani berlokasi di Jalan Flamboyan.

Ujian pertama Ani sebagai istri prajurit berhasil dilewati. Saat SBY bertugas di Timor Timur selama sebelas bulan, Ani berusaha terus tawakal dan berdoa atas perjuangan suaminya.

Kehidupan selanjutnya juga sempat membuat Ani syok. Ani dan SBY tinggal di kompleks asrama Batalyon 330 di Dayeuh Kolot. Rumah yang jauh berbeda dengan yang sering ditinggali oleh Ani, tidak difasilitasi dengan kamar mandi pribadi. Ani harus menyesuaikan diri dengan budaya antre untuk mandi, mencuci, dan buang hajat. Ia bersyukur meski dulu hidupnya difasilitasi secara lengkap, tetapi kebiasaannya mandi di sungai waktu kecil membuatnya cepat beradaptasi.

(Baca: Ani Yudhoyono, Putri Tomboi yang Menawan Hati SBY)

Saat mencuci bersama dengan istri prajurit yang lain, berbagai cerita termasuk gunjingan terdengar olehnya. “Wah, anak jenderal (Sarwo Edhie) ya? Kok mau hidup di asrama seperti ini?”. Celetukan ini hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Ani.

Ia sadar perannya di asrama ini bukan hanya sebagai istri seorang perwira, tetapi juga menjadi pembina bagi istri-istri prajurit lainnya. Peran Ani dalam pembinaan istri prajurit pun beragam, mulai dari menengahi pertengkaran antartetangga hingga menyelesaikan masalah rumah tangga. Tentunya peran ini didukung oleh nasihat SBY dan ibunya yang banyak makan asam-garam sebagai istri prajurit.

Di asrama ini pula Ani melahirkan anak pertama, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), pada 10 Agustus 1978 dengan bobot 3,65 kg. Pengalaman melahirkan Agus membuktikan bahwa ia berhasil menerapkan kemandirian yang diwariskan ibunya.

Persinggahan selanjutnya untuk Ani sekeluarga adalah di Bale Endah. Kondisi di sini jauh lebih baik dari sebelumnya, dengan kamar mandi pribadi dan konsep rumah yang lebih modern. Titiek, kakak perempuan Ani, juga tinggal di asrama ini sehingga seringkali mereka memasak berdua untuk berhemat.

Selain itu, kedua insan bersaudara ini tidak kehabisan akal untuk menambah penghasilan untuk menghidupi kebutuhan rumah tangganya. Setiap bulan ada pembagian rutin susu Shinta kepada keluarga prajurit. Ani dan Titiek mengolah susu tersebut menjadi es mambo untuk dijual di sekolah oleh pembantu Titiek.

Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani Yudhoyono
Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani Yudhoyono (ANTARA FOTO/AMPELSA)

Kelahiran anak keduanya, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), pada 24 November 1980 dilalui Ani hanya bersama dengan Agus. Pada saat itu SBY sedang bertugas di Jawa Barat. Agus kecil memiliki kepekaan yang tajam.  Dengan diantar sopir ambulans, ia membawa surat yang ditulis ibunya untuk disampaikan kepada Titiek. Saat Titiek datang membawakan amanah yang ditulis oleh Ani, ia menyatakan kekagumannya atas kecekatan Agus. “Wah, Agus sudah bisa jadi kurir penting,” ujarnya.

Pada paruh kedua dekade 1980-an menjadi ujian bagi Ani. Pertama, SBY kembali ditugaskan di Dili, Timor Timur. Namun berbeda dengan sebelumnya, Ani sekeluarga ikut serta untuk tinggal di Dili karena akan ditempatkan selama dua tahun lebih. Meski sempat tegang karena setiap hari mendengar kabar prajurit yang gugur, Ani tetap menjalani perannya sebagai istri yang mendukung tugas suaminya, juga ibu yang baik bagi Agus dan Ibas.

Ujian kedua setelah dua setengah tahun di Dili, sang papi wafat. Pemakaman Jenderal Sarwo Edhie mendapat perhatian dan simpati yang besar dari masyarakat. Ani bangga kepada papinya yang menjadi contoh atas dedikasinya kepada bangsa dan negara.

(Baca: Sosok dan Jasa Ani Yudhoyono di Mata Presiden Jokowi)

Melesat Lebih Tinggi: Banting Setir SBY ke Ranah Politik

Tidak ada yang menduga SBY yang jiwanya melebur dalam bidang militer akan menorehkan sejarah di ranah politik. Pada era Gus Dur, SBY dan Ani dibuat heran dengan ditunjuknya SBY sebagai Menteri Pertambangan dan Energi saat karier militernya sedang moncer. Hal ini tergambar dari dipanggilnya SBY oleh Jenderal Wiranto ke rumahnya di Bambu Apus untuk mengabarkan rencana pengangkatan SBY menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Kesedihannya menjadi-jadi hingga ayah SBY, Pak Soekotjo memberikan wejangan. “Jika Presiden memberi tugas untuk negara, itu adalah titah yang tidak bisa ditolak," ujarnya. Pengabdian untuk bangsa dan negara tidak harus melalui TNI.

Petuah tersebut membuatnya mampu menerima keputusan Presiden Gus Dur dengan besar hati dan rasa syukur. Ani pun berusaha mengimbangi SBY yang berlari cepat untuk mempelajari dunia baru yang berkaitan dengan pertambangan dan energi. Pengalamannya sebagai pemimpin istri prajurit digunakannya untuk menjadi penasihat Dharma Wanita di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi.

SBY dan Ani belajar dengan cepat. SBY selanjutnya ditunjuk menjadi Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam). Namun, keluarga Ani harus menerima kenyataan pahit ketika SBY dicopot dari jabatannya. Pasalnya, SBY dianggap tidak kompeten membuat hubungan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Gus Dur menjadi harmonis.

Namun, kharisma SBY tidak dapat dilupakan begitu saja. Ia diminta untuk maju sebagai calon wakil presiden (wapres) untuk Megawati Soekarnoputri usai Gus Dur lengser dari tampuk kepemimpinannya. Meski SBY kalah suara dalam voting yang dilakukan MPR pada 24 dan 25 Juli 2001, ia dipercaya menjadi Menko Polkam oleh Megawati.

Selama menjabat sebagai Menko Polkam, gonjang-ganjing pun terjadi dalam hubungan SBY dan Mega. Mega mulai tidak menunjukkan ketidakpercayaan kepada SBY dengan tidak mengundangnya di acara-acara penting negara.

Kabarnya SBY dianggap mengkhianati Mega dan sebaliknya. Mega khawatir pada SBY yang akan maju menjadi calon presiden (capres). Ani yang tidak tahan dengan media massa yang terus mengobral keburukan SBY, akhirnya menyatakan keberatan hingga harus berinisiatif menghentikan kekacauan ini. Akhirnya, SBY memilih mundur dari jabatannya sebagai Menko Polkam.

Reporter: Dwi Hadya Jayani

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha