BPN Prabowo-Sandi Tunggu Sikap Demokrat Tentukan Pilihan Koalisi

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

7/6/2019, 20.59 WIB

Pernyataan Andi Arief dinilai membuat gaduh koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga.

sikap Demokrat di kubu Prabowo-Sandi
ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). BPN Prabowo-Sandi menunggu kejelasan sikap Demokrat.

Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, meminta Partai Demokrat menentukan sikap yang jelas dalam Pilpres 2019. Menurut Andre, Demokrat tak bisa menyatakan berada dalam koalisi Indonesia Adil dan Makmur, namun kerap kali merongrong Prabowo-Sandi.

"Silakan tentukan sikap yang jelas saja daripada katanya koalisi, tapi seakan merongrong dari dalam," kata Andre ketika dihubungi Katadata.co.id, Jumat (7/6).

Pernyataan Andre merujuk pada sikap yang ditunjukkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief melalui akun Twitter.  Andi mencuit partainya kerap kali disalahkan atas kekalahan pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019. Selain itu, Andi menyebut Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga diseret sebagai kambing hitam atas kekalahan Prabowo-Sandiaga.

"Dalam kenyataannya kalah terpuruk, malah menyalahkan Partai Demokrat, SBY, dan AHY. Ngambek pada kekuatan yang tidak dilibatkan," kata Andi melalui akun Twitternya @AndiArief_, Jumat (7/6).

(Baca: Andi Arief: Kekalahan Prabowo-Sandiaga Bukan Salah Demokrat dan SBY)

Menurut Andre, pernyataan Andi membuat gaduh koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga. Padahal, Prabowo-Sandiaga saat ini tengah berfokus mengurus gugatan hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Daripada membuat kegaduhan, Andre mempersilakan Demokrat jika ingin bergabung dalam koalisi pendukung pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Andre pun mempersilakan Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pemilu Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi menteri di pemerintahan Jokowi jika memang menginginkannya.

Menurut Andre, BPN Prabowo-Sandiaga tak ingin mencampuri urusan internal Demokrat atau menyalahkan AHY. "Kalau ada orang yang ingin menjadi menteri, mau keluar (dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur), ya silakan, itu hak mereka," kata Andre.

Lebih lanjut, Andre membantah jika Andi selama ini pernah memberikan masukan bagi Prabowo-Sandiaga. Menurut Andre, Andi tak pernah datang dalam rapat-rapat yang dilakukan BPN Prabowo-Sandiaga.

Dia pun meminta agar Andi datang dalam rapat yang dilakukan BPN jika memang memiliki masukan untuk Prabowo-Sandiaga. "Jadi jangan caper (cari perhatian), kami capek menghadapi orang caper," kata Andre.

(Baca: Silaturahmi AHY, Langkah Politik Demokrat Mendekat ke Jokowi)

Selain membuat cuitan mengenai Demokrat yang kerap kali disalahkan atas kekalahan pasangan calon nomor urut 02,
Andi sebaliknya menilai kekalahan Prabowo-Sandiaga karena tak pernah mendengarkan usulan dari Demokrat, SBY, dan AHY. Bahkan, Andi menyebut Demokrat, SBY, dan AHY ditinggal saat deklarasi hanya karena mengusulkan Prabowo mencari calon wakil presiden selain Sandiaga.

Sebab, Demokrat, SBY, dan AHY mengatakan Prabowo tak berpeluang menang jika berpasangan dengan Sandiaga berdasarkan hasil survei. Menurut Andi, hal itu karena Sandiaga teridentifikasi politik SARA, sehingga sulit menang di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang pemilihnya besar.

"Pak Prabowo keras kepala dan meninggalkan Demokrat. Kini terbukti," kata Andi.

Meski tidak meyakini kemenangan Prabowo-Sandiaga dalam Pilpres 2019, Andi menyebut Demokrat, SBY, dan AHY tetap berupaya mencari jalan yang benar agar mereka bisa mengungguli Jokowi-Ma'ruf. Berkali-kali pertemuan antara Demokrat, SBY, dan AHY pun mengusulkan sesuatu yang positif bagi Prabowo-Sandiaga.

(Baca: Prabowo Hadir di Cikeas untuk Berikan Dukungan Moril Kepada SBY)

Hanya saja, Andi menyebut usulan tersebut selalu ditolak oleh Prabowo-Sandiaga. Andi lantas menilai kekalahan Prabowo-Sandiaga dalam Pilpres 2019 haruslah menjadi pelajaran.

"Pelajaran buat semua yang akan ikut capres dan cawapres, agar memperhatikan survei sebagai alat bantu kemenangan. Punya uang banyak, namun survei tidak berpeluang dalam level Pilpres jangan memaksakan diri," kata Andi.

Dalam cuitannya, Andi juga sempat menyinggung soal Prabowo yang memaksakan Sandiaga sebagai pendampingnya dalam Pilpres 2019. Hanya saja, ia tak mau membeberkan mengapa hal itu terjadi.

Menurut Andi, hal tersebut biarlah menjadi rahasia Demokrat, SBY, dan AHY. "Sejarah mencatat bahwa Demokrat, SBY, dan AHY sudah menunjukkan jalan menang, namun ditolak Pak Prabowo," kata dia.

Lebih lanjut, Andi dalam cuitannya menyinggung isu penyelenggara Pemilu dan aparat yang dianggap tidak netral. Menurut Andi, Prabowo sempat menyatakan bahwa KPU saat ini berbeda, karena profesional dan netral.

Bahkan, Andi menyebut Prabowo sempat menyatakan tak perlu khawatir dengan KPU saat ini. "Itu kalimat dari mulut Pak Prabowo," katanya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan