Terpengaruh CPO, Indeks Pasar Biodiesel pada Juni Kembali Turun

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Yuliawati

12/6/2019, 17.54 WIB

Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati untuk Juni 2019 mengalami penurunan karena harga minyak kelapa sawit.

data indeks pasar biodiesel
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi.

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali merilis Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk Juni 2019. HIP BBN biodiesel pada Juni 2019 sebesar Rp 6.977 per liter, atau turun Rp 371 dari bulan lalu, yaitu sebesar Rp 7.348 per liter.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan HIP Biodiesel menurun disebabkan karena harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/ CPO). Pada 15 April-Mei 2019 harga CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) sebesar Rp 6.598 per kilogram (kg), sedangkan pada 15 Maret-14 April 2019 berada di level Rp 7.026 per kg.

"Harga ini berlaku juga untuk B20 atau campuran Biodiesel ke Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 20%," ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (12/6).

(Baca: Harga Indeks Pasar Biodisel pada Mei 2019 Turun Seiring CPO)

Sedangkan, untuk HIP Bioetanol pada Juni Kementerian ESDM menetapkan sebesar Rp 10.201 per liter atau naik Rp 6 dibandingkan pada bulan lalu yakni Rp 10.195 per liter. Sementara itu, untuk rata-rata tebu KPB selama 15 April-14 Mei 2019 tercatat Rp 1.611 per kg, atau sama dibandingkan pada periode sebelumnya.


Agung menjelaskan peningkatan harga ini disebabkan oleh kenaikan kurs rupiah terhadap dolar. "Mengalami perubahan akibat fluktuasi harga CPO maupun pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat," ujarnya.

Penghitungan harga bioetanol memakai formula HIP = (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + US$ 0,25/liter. Sedangkan untuk biodiesel menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut.

Adapun HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).

(Baca: Realisasi Biodiesel B100 Perlu Koordinasi Antar Lembaga)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN