Aplikasi Virtual Reality Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2019

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

14/6/2019, 13.40 WIB

Lewat fitur virtual reality di aplikasi Ars., masyarakat dapat menikmati instalasi seni yang dipertunjukkan tanpa perlu datang ke Italia.

Delegasi Indonesia dalam Venice Biennale di Italia, Rabu, 8 Mei 2019.
Bekraf
Delegasi Indonesia dalam Venice Biennale di Italia, Rabu, 8 Mei 2019.

Paviliun Indonesia hadir dalam pameran seni tertua di dunia Venice Biennale di Italia pada 11 Mei hingga 24 November. Masyarakat bisa menikmati pameran itu secara virtual melalui aplikasi lokal Ars. yang dikembangkan oleh Johanes Adika Gahari.

Dalam Instagram Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ars. bisa menjadi sarana apresiasi paviliun Indonesia di Venice Biennale 2019 secara tidak langsung. "Ayo nikmati paviliun Indonesia secara virtual melalui aplikasi buatan putra-putri bangsa," tertulis dalam foto unggahan @bekrafid, Jumat (14/6).

Ars. adalah aplikasi media dengan fitur augmented reality atau virtual reality yang memungkinkan sebuah produk tampil dalam pengalaman baru lewat gabungan teknologi, foto, serta video. Ars. bisa diunduh melalui Google Play dan Apple Store.

Paviliun Indonesia menampilkan instalasi seni berjudul Akal Tak Sekali Datang, Runding Tak Sekali Tiba. Dalam Ars., terdapat lima medium yang menampilkan berbagai pameran karya seni Paviliun Indonesia pada Venice Biennale 2019.

(Baca: Lima Festival Budaya Pamerkan Potensi Industri Kreatif)

Para pengguna bisa mengakses konten yang ada di Ars. secara gratis. Namun, terdapat akses berbayar seharga Rp 1,5 juta untuk membuka konten lebih banyak lagi. Sebab, Ars. juga menampilkan beberapa pertunjukan, seperti Lunar Series, Konser Monokrom Tulus, Patung Garuda Wisnu Kencana, serta karya kreatif lain.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Pesik menyatakan, Indonesia konsisten ikut serta dalam Venice Biennale sejak 2017. "Eksibisi sepanjang enam bulan jadi kesempatan untuk memperkenalkan karya Indonesia," kata Ricky di Jakarta, Rabu (24/4) lalu.

Dia menyebutkan, potensi ekonomi dalam produk seni masih perlu perkenalan pasar. Ricky menyatakan, Indonesia harus terus konsisten dalam pameran internasional supaya eksposur global terjaga. "Setiap tahun, jumlah pengunjung di Venice itu mencapai 20 juta orang, sekitar 8 juta pendatang pasti menghampiri paviliun di Venice Biennale," ujarnya.

(Baca: Indonesia Tampilkan Lima Karya Instalasi dalam Venezia Biennale 2019)

Lima komponen instalasi adalah Meja Runding, Susunan Kabinet, Buaian, Ruang Merokok, dan Mesin Narasi. Semuanya bakal menjadi rangkaian untuk menarasikan garis alur kehidupan budaya masyarakat Indonesia.

Tim artistik yang menampilkan karya adalah Handiwirman Saputra dan Syagini Ratna Wulan sebagai seniman. Selain itu, Asmudjo Djono Irianto dan Yacobus Ari Respati berlaku sebagai kurator.

Asmudjo mengaku instalasi dalam paviliun Indonesia merepresentasikan labirin raksasa dalam kehidupan masyarakat. "Hasil eksplorasi setiap pengunjung akan berbeda sesuai keputusan yang mereka ambil," katanya.

Menurutnya, tema paviliun Indonesia menawarkan pendekatan seni sebagai sesuatu yang menyenangkan serta bentuk pemicu pemikiran kritis masyarakat. Setelah tampil dalam Venice Bienalle, lima instalasi akan dipamerkan di Indonesia.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan