Bulan Mei 2019 Antam Habiskan Dana Eksplorasi Rp 3,57 Miliar

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Agung Jatmiko

14/6/2019, 20.21 WIB

Biaya eksplorasi Antam selama Mei 2019 antara lain untuk eksplorasi emas di Pongkor dan Cibaliung, nikel di Pomalaa dan Tapunopaka serta bauksit di Tayan

Antam, dana eksplorasi, volume produksi dan penjualan nikel
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Petugas memperlihatkan emas batangan yang ditransaksikan di Butik Emas Logam Mulia, gedung Aneka Tambang, Jakarta, Selasa (3/4).

PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan pengeluaran dana eksplorasi pada Mei 2019 sebesar Rp 3,57 miliar. Kegiatan eksplorasi ini berfokus pada komoditas emas, nikel, dan bauksit.

Rinciannya Rp 1,39 miliar untuk kegiatan eksplorasi emas di Pongkor dan Cibaliung, Banten, Jawa Barat. Kegiatan tersebut meliputi pemodelan geologi , pengeboran di Pongkor. Sedangkan pemetaan geologi dan perencanaan pengeboran di Cibaliung.

"Tidak hanya melakukan eksplorasi, tetapi tinjauan ke beberapa daerah prospek," ujar Sekertaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu (12/6).

Sementara, untuk eksplorasi nikel sebesar Rp 1,70 miliar dilakukan di Pomalaa dan Tapunopaka, Sulawesi Tenggara, dan Waylukum, Halmahera Timur, serta tinjuan di beberapa daerah prospek. Adapun kegiatan ekspolrasi yang dilakukan yaitu pemetaan geologi dan pengeboran single tube.

Kemudian, eksplorasi bauksit sebesar Rp 481,43 juta di Tayan, Kalimantan Barat. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan seperti pemetaan geologi, pengukuran grid.

Adapun, total pengeluaran eksplorasi pada Mei lebih rendah dibandingkan pada April yang mencapai Rp 4,44 miliar. Rinciannya terdiri dari eksplorasi tambang emas di Pongkor dan Cibaliung sebesar Rp 2,10 miliar, nikel Rp 2,20 miliar, dan bauksit Rp 142,08 juta.

(Baca: Antam Targetkan Produksi dan Penjualan Lebih Tinggi Tahun Ini)

Selain itu, pada kuartal I-2019 Antam mencatatkan penjualan sebesar Rp 6,22 triliun atau naik sekitar 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni hanya Rp 5,73 triliun. Peningkatan ini ditopang oleh penjualan emas yang mencapai Rp 3,94 triliun atau menyumbang 63% dari total penjualan.

Antam juga mencatatkan penjualan feronikel sebesar Rp 1,23 triliun,meningkat sekitar 26% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yaitu Rp 972,38 miliar. Feronikel menjadi kontribusi penjualan terbesar kedua setelah emas.

Peningkatan volume produksi dan penjualan sejalan dengan tercapainya stabilitas operasi produksi pabrik feronikel Antam di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Saat ini pabrik feronikel Antam memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 27.000 tin nikel (TNi) per tahun.

Rencananya pada semester II 2019 bisa mencapai total kapasitas produksi sebesar 40.500 TNi dengan mulai beproduksinya pabrik feronikel Antam di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Sedangkan, untuk penjualan bijih nikel pada kuartal pertama senilai Rp 782,51 miliar dengan total volume 1.743.183 wet metrik ton (WMT). Penjualan bijih nikel meningkat 39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 562,66 miliar.

(Baca: Antam Kerja Sama Pengembangan Nikel dengan Dua Perusahaan Tiongkok)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan