Spekulasi BI akan Pangkas Bunga Acuan pada Pekan Depan Makin Menguat

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

14/6/2019, 20.23 WIB

Sejumlah bank sentral di ASEAN telah menurunkan bunga acuannya sehingga Indonesia memiliki suku bunga tertinggi di kawasan.

suku bunga acuan BI
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kanan) didampingi Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto (tengah) dan Dody Budi Waluyo (kiri), menyampaikan keterangan pers tentang hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan April 2019 di kantor pusat BI, Jakarta, Kamis (25/4/2019). Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada Rabu (19/06) hingga Kamis (20/6) nanti. RDG bulanan ini digelar guna menentukan arah kebijakan moneter ke depan dengan menetapkan kebijakan suku bunga acuan, BI 7-Day Repo Rate terbaru .

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira meyakini BI pada bulan ini akan menurunkan suku bunga acuan. "Jika BI pre-emptives, sangat mungkin suku bunga acuan turun 25 basis poin," ujarnya saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat (14/6).

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Mei 2019 lalu memutuskan untuk mempertahankan bunga acuan di level 6%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

(Baca: OJK Nilai Sudah Saatnya BI Turunkan Suku Bunga Acuan)

Namun saat ini, naiknya peringkat utang Indonesia dari Standard & Poor's dapat menjadi pertimbangan BI dalam menurunkan suku bunga. Adapun beberapa bank sentral di ASEAN sudah melakukan pemangkasan suku bunga. Hal ini menjadikan Indonesia merupakan negara ASEAN dengan suku bunga tertinggi.

Padahal, tingginya suku bunga menjadi hambatan percepatan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, sinyal penurunan suku bunga juga sudah diberikan bank sentral AS (The Fed).

Menurut Bhima, ada dampak positif dan negatif tingginya suku bunga acuan. Dampak positifnya yaitu cadangan devisa untuk stabilisasi kurs tidak akan terus tergerus. Hal ini yang diyakini Bhima menjadi alasan BI menahan suku bunga acuan.

"Mungkin BI ingin menambahkan cadangan devisa lewat penerbitan SBN makanya mereka tahan suku bunga acuan pada tahun ini," lanjutnya.

Di sisi lain, tingginya suku bunga acuan dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan kredit. Hal ini dapat berdampak pada laju perekonomian yang kurang optimal. Bhima berpendapat BI juga harus memperhatikan sektor riil karena menanggung bunga yang mahal.

(Baca: Potensi Bunga The Fed Turun, Ekonom Ingatkan BI Jangan Telat Merespons)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan