Kubu Prabowo Usul Masa Jabatan Presiden 7 Tahun, Tapi Hanya Sekali

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Sorta Tobing

16/6/2019, 03.00 WIB

“Karena memang untuk head to head dengan inkumben ini ya bukan pekerjaan mudah,” kata Wakil Ketua BPN Priyo Budi Santoso.

pilpres 2019, bpn, prabowo, pemilu, masa jabatan presiden
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Prabowo Subianto selaku capres nomor urut 2 memberikan paparan mengenai hasil quick count di rumah BPN, Kartanegara, Jakarta (17/4).

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Priyo Budi Santoso mengusulkan agar masa jabatan presiden-wakil presiden diperpanjang menjadi tujuh tahun. Hanya saja, dia meminta agar presiden-wakil presiden hanya diberikan maksimal satu kali masa jabatan.

“Ya saya usulkan satu periode, tapi mungkin (masa jabatan) tujuh tahun,” kata Priyo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (15/6).

Priyo mengakui usulannya tersebut memang cukup jenaka. Namun demikian, usulan tersebut disampaikannya karena Prabowo-Sandiaga menemukan berbagai kesulitan ketika mengikuti Pilpres 2019.

Pasalnya, Prabowo-Sandiaga harus berhadapan dengan pasangan calon petahana, Joko Widodo-Ma’ruf Amin. “Karena memang untuk head to head dengan inkumben ini ya bukan pekerjaan mudah,” kata Priyo.

(Baca: BPN Prabowo-Sandiaga Bakal Hadirkan Saksi Menghebohkan saat Sidang MK)

Pasangan calon petahana, menurut dia, bisa memanfaatkan jabatannya ketika berkampanye selama Pilpres 2019. Dengan demikian, akses antarkandidat dalam kontestasi politik nasional tidak sama.

Selain itu, hal tersebut rentan menjadikan kecurangan terjadi dalam kontestasi politik nasional. Dia memisalkan kecurangan tersebut dapat terjadi dalam bentuk penggelembungan suara, pemanfaatan kebijakan, serta penggunaan aparat dan intelijen.

Priyo menilai seharusnya Pilpres dapat memberikan akses yang sama bagi para pasangan calon. Dia pun menilai suasana Pilpres harus jauh dari berbagai bentuk kecurangan. “Kami ingin pemilu, siapa pun yang maju, mestinya harus terjamin suasana yang jujur dan adil,” kata Priyo.

BPN Akui Sulit Buktikan Kecurangan Pilpres 2019

Pada kesempatan yang sama, Priyo mengakui untuk membuktikan kecurangan dalam Pilpres 2019 bukan pekerjaan mudah. Sebab, ia menilai kecurangan tersebut dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

Selain itu, Priyo menyebut aturan terkait Pemilu di Indonesia bersifat sangat teknis. Karena itu, sulit untuk bisa mengungkapkannya secara jelas kepada publik.  "Untuk membuka, membongkar sebuah fakta yang demikian kelam ini memang bukan pekerjaan yang mudah," katanya.

Namun, Priyo menyebut pihaknya dapat merasakan kecurangan yang terjadi dalam Pilpres 2019. Tim Kuasa Hukum Prabowo-Sandiaga lantas berupaya mencari bukti kecurangan tersebut yang kemudian menjadi dalil gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK).

(Baca: Kuasa Hukum Jokowi Nilai Waktu Perbaikan Tanggapan dari MK Tak Imbang)

Menanggapi hal tersebut, anggota Tim Kuasa Hukum Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Taufik Basari menilai pembuktian di MK tidak bisa didasarkan pada perasaan semata. Kubu Prabowo-Sandiaga, menurut dia, harus bisa membuktikan tuduhan tersebut lewat fakta-fakta yang jelas.

Adapun, Taufik mempertanyakan bukti-bukti yang dilampirkan dalam dokumen gugatan Prabowo-Sandiaga. Sebab, kata Taufik, bukti yang dibawa kebanyakan merupakan tautan berita dari media massa tanpa adanya bukti lanjutan.

Bukti-bukti tersebut pun dianggap tidak relevan dengan dalil yang disampaikan. "Banyak hal yang menurut kami mengada-ada. Jadi keinginannya hanya untuk membangun narasi, satu peristiwa ke peristiwa lain, disambungkan, dibuat dengan sistem cocoklogi," kata Taufik.

Reporter: Dimas Jarot Bayu dan Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha