BTN Catat Harga Rumah Naik 7,34% di Triwulan I-2019

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

19/6/2019, 13.27 WIB

Harga rumah tumbuh paling tinggi di daerah yang paling pesat merasakan pembangunan infrastruktur seperti di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

harga rumah, bank tabungan negara, btn, indeks harga rumah 2019
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi pembangunan perumahan. Harga rumah pada triwulan I 2019 berdasarkan BTN House Price Index naik 7,34% secara tahunan.

Housing Finance Center (HFC), unit riset PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), mencatat harga rumah pada triwulan I-2019 naik 7,34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu berdasarkan BTN House Price Index (BTN HPI) yang mencapai 163,90. Laju pertumbuhan tersebut, terhitung lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2018 sebesar 6,44%.

Kenaikan tersebut seiring dengan pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan oleh pemerintah sehingga memberikan dampak positif terhadap perkembangan harga properti. "BTN HPI sempat tertekan pada 2015 hingga 2018 karena laju pertumbuhannya cenderung melandai," kata Direktur Utama BTN Maryono dalam keterangan resmi, Rabu (19/6).

Tercatat BTN HPI bisa tumbuh sekitar 14,30% pada triwulan I-2015 menjadi hanya tumbuh 11,49% pada triwulan I-2016. Indeks tersebut kembali turun lagi pada triwulan I-2017 dan anjlok pada triwulan I-2018 yang hanya tumbuh 6,44%.

"Namun tahun ini, kami optimistis harga properti akan semakin meningkat, seiring dengan diselesaikannya proyek-proyek infrastruktur yang telah digagas pemerintah," kata Maryono menambahkan.

(Baca: Diperkuat Penyaluran FLPP, BTN Incar Pertumbuhan KPR 25% Tahun Ini)

Optimisme tersebut didasarkan pada data kenaikan BTN HPI yang terjadi di daerah dengan perkembangan infrastruktur yang pesat dan adanya potensi pengembangan infrastruktur di wilayah tersebut, diantaranya Jakarta, Jawa Tengah  serta Jawa Timur.

Menurut data HFC, Maryono memaparkan setidaknya ada 6 kabupaten dan kota yang terekam memiliki BTN HPI di atas rata-rata nasional yakni di Batang-Jawa Tengah (253,29), Jember-Jawa Timur (252,20), Batam-Kepri (232,28), dan Bantul-DI Yogyakarta (221,62), serta Banyumas-Jawa Tengah (232,28). Sedangkan Jakarta Timur ada di peringkat ke enam meraih BTN HPI sebesar 215,50.

Daerah tersebut mayoritas dilalui proyek infrastruktur yang baru diselesaikan seperti jalan tol, lintasan kereta dan beberapa infrastuktur penunjang lainnya. Menurut Maryono, setelah diresmikannya tol Pemalang-Batang pada 2018 lalu, Kabupaten Batang, Jawa Tengah menduduki peringkat BTN HPI tertinggi yaitu 253,29 atau naik 20,44% secara tahunan.

Sedangkan, indeks yang mengalami kenaikan BTN HPI tertinggi adalah Kabupaten Jember, Jawa Timur yang melonjak 28,28% pada triwulan I 2019. Jember menduduki peringkat kedua dengan BTN HPI sebesar 252,2.

(Baca: Genjot KPR Subsidi, BTN Incar 95% Dana Tapera)

Adapun salah satu penyebab dari kenaikan BTN HPI di Kabupaten Jember, berdasarkan riset dari HFC adalah rencana pembangunan Tol Trans Jawa, ruas Mojokerto-Banyuwangi yang akan melintasi Jember. Pembangunan itu untuk mendukung rencana pemerintah pusat membangun sejumlah dermaga dan bandara embarkasi haji di Kota Tembakau tersebut.

Hunian Milenial di Perkotaan Berkelanjutan

Dengan pertumbuhan BTN HPI yang mulai menanjak, banyak pihak yang berharap pemerintah dapat mengurangi backlog perumahan atau kurangnya pasokan perumahan. Untuk itu, Maryono menilai diperlukan sejumlah terobosan baik dari sisi permintaan maupun pasokan.

Maryono mengatakan, generasi milenial akan menjadi tulang punggung dari perekonomian bangsa, karena  akan mendominasi sekitar 34% dari populasi penduduk Indonesia pada tahun 2020. "Sehingga seluruh stakeholder bidang properti harus bisa menyelaraskan strategi serta kebijakan dengan kebutuhan dan karakter generasi milenial,” kata Maryono.

Berdasarkan survey yang digelar HFC terhadap 270 responden berusia 21-35 tahun yang dipilih dari wilayah padat penduduk seperti Jabodetabek, Jawa Timur (Surabaya-Sidoarjo) dan Batam, generasi milenial ingin memiliki rumah tapak dengan harga terjangkau. Selain itu, mereka berharap mendapatkan tenor kredit pemilikan rumah (KPR)  selama 10-15 tahun, serta cicilan yang sesuai dengan  kemampuan.

(Baca: Menteri PUPR Tahan Kenaikan Harga Rumah Subsidi)

Sehingga menurut Maryono, produk KPR yang diinginkan milenial harus mudah dipahami, sesuai dengan kemampuan keuangan mereka, serta harus sudah disiapkan atau dimulai sejak mereka duduk dibangku SMA atau perguruan tinggi lewat produk tabungan untuk KPR.

Selain menyediakan produk yang pas dengan permintaan konsumen dari generasi milenial, Bank BTN juga mengupayakan pasokan properti aman, dengan menjaring sebanyak-banyaknya generasi milenial untuk ambil bagian dalam sepak terjang dunia properti sebagai developer atau pengembang perumahan, atau berkiprah di dunia properti sebagai investor.

”Kami aktif menyelenggarakan workshop properti dan bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan program mini MBA di dunia properti dan baru-baru ini mendukung Keluarga Alumni Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada atau Katsgama dalam menyelenggarakan School of Property Developer yang diluncurkan hari ini,” kata Maryono.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan