Kemenperin: Pendapatan IKM Naik Tujuh Kali Berkat Transaksi Online

Penulis: Rizky Alika

Editor: Yuliawati

21/6/2019, 15.54 WIB

Kemenperin mencatat sebanyak 8 ribu industri kecil dan menengah (IKM) telah memasarkan produknya secara online.

pendapatan IKM naik berkat penjualan online
ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar
Perajin UKM menyelesaikan kerajinan kertas kokoru di workshop Wahyucraft di Desa Medalsari, Karawang, Jawa Barat, Senin (24/9).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan pendapatan Industri Kecil dan Menengah (IKM) meningkat hingga tujuh kali lipat setelah memasarkan produknya melalui platform digital. Perhitungan ini didapatkan dari hasil penelitian kementerian.

"Dari hasil penelitian kami, pendapatan mereka naik hingga tujuh kali lipat karena pemasarannya secara online. Jadi memang sangat efektif," kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Gati Wibawaningsih di Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta, Jumat (21/6).

(Baca: Gaet 100 Ribu Penjual, Blibli Berencana  Ekspor Produk Lokal)

Selain efektif, ia menilai biaya pemasaran lebi murah lantaran tidak perlu membayar sewa lokasi, broker, dan membayar gaji karyawan penjual. Selain itu, jasa pengiriman barang saat ini sudah dilakukan dengan cara cepat.

Penjualan secara online dapat langsung mempertemukan supplier dengan konsumen tanpa dikenakan biaya. Sehingga berpotensi meningkatkan jumlah pembeli dibandingkan berjualan secara konvensional. "Jadi bagaimana caranya berjualan secara online, karena yang offline tidak bisa ditampung oleh APBN," ujarnya.

Hal ini juga sejalan dengan penerapan revolusi industri 4.0. Oleh karena itu, Kemenperin mendorong e-Smart IKM pada tahun ini. Sebagai informasi, Kemenperin meluncurkan program e-smart IKM sejak 2017 lalu.

(Baca: Data E-Commerce Akurat, Sri Mulyani Kaji Cara Pungut Pajak yang Sesuai)

Program tersebut diisi dengan kegiatan pelatihan digital kepada IKM. Tujuannya, mengajarkan IKM untuk memahami fungsi teknologi. Alat komunikasi diharapkan tidak hanya digunakan sebatas untuk media sosial, tapi penjualan.



Saat ini, Kemenperin mencatat sebanyak 8 ribu industri kecil dan menengah (IKM) telah memasarkan produknya secara online. Jumlah tersebut diyakini akan terus bertambah seiring meningkatnya minat dari IKM untuk menggunakan saluran pemasaran tersebut. "Target kami 2020 tambah lagi 5 ribu IKM lagi untuk bisa memasarkan secara online," ujarnya.

Kemenperin telah menggandeng penyedia marketplace online, seperti Tokopedia, Bukalapak dan Blibli untuk mendorong IKM memanfaatkan pemasaran secara online. Selain itu, Kemenperin bekerja sama dengan perbankan agar pelaku IKM dapat memahami akses permodalan untuk pengembangan bisnis.

Ke depan, pihaknya berencana untuk menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkenalkan kepada IKM tentang layanan keuangan dari teknologi finansial (tekfin). "Jangan sampai nanti terperangkap pada tekfin yang ilegal," ujarnya.

Dorong UKM Ekspor

Ikatan Pemberdayaan Pedagang Kecil Indonesia (Ippkindo) menggelar pameran Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan tajuk Gebyar Ippkindo 9th Expo, UKM Goes Global. Acara ini digelar untuk mendorong ekspor melalui produk UKM.

Dirjen Gati mengapresiasi Ippkindo yang berupaya untuk mendorong ekspor melalui pameran tersebut. Dia mengatakan sektor industri menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar."Berdasarkan sensus Ekonomi BPS tahun 2016, industri menyerap 15,974 tenaga kerja," ujarnya.

(Baca: UMKM Berpeluang Selamatkan Indonesia dari Jebakan Kelas Menengah)

Acara ini digelar di Jakarta Convention Center selama 21-23 Juni 2019. Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk memasuki ruang pameran. Adapun, pameran ini turut menghadirkan 75 stand dengan beberapa produk meliputi produk tekstil nusantara, kuliner nusantara, kerajinan nusantara, produk agro dan perikanan, dan pariwisata.

"Kami ingin mendorong ekspor dari produk UKM binaan yang belum 100% mandiri. Produknya sudah layak eskpor atau belum, ini masih diuji coba," kata Ketua Umum Ippkindo Titi Cacuk Sudarijanto di JCC Senayan.

Acara ini digelar di Jakarta Convention Center selama 21-23 Juni 2019. Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk memasuki ruang pameran. Adapun, pameran ini turut menghadirkan 75 stand dengan beberapa produk meliputi produk tekstil nusantara, kuliner nusantara, kerajinan nusantara, produk agro dan perikanan, dan pariwisata.

Titi mengatakan, produk UKM tersebut tidak diproduksi secara masal. "Sehingga simbol pribadi atau budaya lokalnya masih kental," ujarnya.

Guna mendorong ekspor, Ippkindo juga turut mengundang duta besar dari berbagai negara, seperti ASEAN, Jepang, Australia, dan Ekuador. Selain itu, turut hadir pula negara-negara seperti Belgia, Perancis, Thailand, dan Filipina. Kehadiran negara tersebut diharapkan menjadi peluang untuk mendorong pasar ekspor.

Titi mengatakan, upaya pendorongan ekspor ini merupakan yang pertama kalinya dalam Gebyar Ippkindo Expo. Sebelumnya, Ippkindo hanya menargetkan penjualan pada pasar domestik. "Ippkindo menjadi tolak ukur keberhasilan pemberdayaan baik dari pemerintah swasta maupun masyarakat pada umumnya," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan