Harga Batu Bara Acuan US$ 71,92 per Ton, Terendah Sejak November 2016

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Martha Ruth Thertina

4/7/2019, 21.38 WIB

Beberapa faktor menyebabkan penurunan harga batu bara, seperti pembatasan impor oleh India dan Tiongkok, serta masuknya batu bara Rusia ke pasar Asia.

harga batu bara acuan 2019, hba juli 2019 terendah sejak november 2016
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Aktivitas di tambang Batu bara legal di Desa Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (17/1/2019).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) dengan kalori 6.322 kcal per kilogram sebesar 71,92 per ton pada Juli 2019. Harga ini anjlok 13,2% dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 81,48 per ton. Ini merupakan harga terendah sejak November 2016.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan penurunan harga ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pembatasan impor batu bara oleh India. "India membatasi impor karena beberapa pabrik keramik ditutup sementara karena alasan lingkungan," ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Kamis (4/7).

(Baca: Nasib 8 Perusahaan Besar Tambang Batu Bara Tersandera Revisi PP dan UU)

Faktor lainnya yaitu, Tiongkong yang membatasi impor batu bara dan meningkatkan produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Batu bara dari Rusia yang mulai memasuki pasar Asia. Selain itu, perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Berdasarkan catatan katadata.co.id, HBA Juli 2019 ini merupakan yang terendah sejak November 2016. HBA sempat naik hingga menembus US$ 100 per ton pada 2018, namun kemudian berangsur turun.

Pada Januari 2019, HBA tercatat berada di level US$ 92,41, kemudian turun menjadi US$ 91,80 pada Februari, dan turun lagi menjadi US$ 90,57 pada Maret. HBA pada April kembali turun menjadi US$ 88,85 per ton. Namun, HBA naik tipis menjadi US$ 89,53 per ton pada Mei. Per Juni, HBA kembali merosot menjadi US$ 81,49 per ton, dan semakin merosot ke posisi US 71,92 per Juli.

(Baca: Adaro Pastikan PLTU Tanjung Beroperasi Tahun Ini)

Head of Corporate Communciation Division Adaro Energy Febriati Nadira mengatakan bahwa tren harga batu bara memang tidak dapat diprediksi. Namun, ia menyatakan perusahaan akan terus mengupayakan kinerja yang solid. "Kami akan terus menjalankan keunggulan operasional agar bisa berjalan dengan baik dan aman," ujarnya, kepada Katadata.co.id.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha