Dorong Ekspor Beras, Kemendag Harap Harga Lebih Kompetitif

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ratna Iskana

5/7/2019, 15.07 WIB

Rata-rata harga beras internasional saat ini sebesar Rp 6.200/kg. Sedangkan harga beras nasional dengan kualitas yang sama sebesar Rp 8 ribu/kg.

ekspor beras, bulog, kemendag
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, beras bulog. Perum Bulog membatalkan rencana ekspor beras tahun ini karena harga beras Indonesia dinilai lebih mahal dibandingkan harga di pasar internasional.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) ingin mendorong ekspor beras dengan mencari pasar potensial.  Sekretaris Jenderal Kemendag, Karyanto Suprih mengatakan, pihaknya tengah melakukan upaya perundingan dengan negara lain untuk membuka pasar dan promosi.

Biarpun begitu, ekspor beras masih terkendala harga yang kurang kompetitif.  Untuk mendorong ekspor, harga beras nasional seharusnya tidak lebih mahal dibandingkan harga beras internasional. Selain itu, biaya produksi beras dalam negeri juga harus diperhitungkan agar harga jual tidak terlalu tinggi. 

"Kita harus kompetitif, baik dari segi kualitas maupun harga. Kalau harga kita lebih tinggi dari harga dunia, ya bagaimana mau dibeli? Kan lebih baik dia beli di negara lain," kata dia di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (5/7).

Stok beras memang diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun jika produksi berlebih, pasokan beras akan diekspor.

(Baca: Bulog Batal Ekspor Beras karena Harga di Dalam Negeri Lebih Mahal)

Makanya Perum Bulog berencana mengekspor beras ke beberapa negara, termasuk Malaysia, karena melimpahnya pasokan beras di gudang Bulog. Namun, rencana tersebut dibatalkan lantaran harga beras Indonesia dinilai lebih mahal dibandingkan harga di pasar internasional.

"Tidak mungkin kita bersaing. Kalau kita ekspor, patokannya harga internasional," kata Direktur Utama Bulog Budi Waseso.

Rata-rata harga beras internasional saat ini sebesar Rp 6.200 per kilogram. Sementara harga beras nasional dengan kualitas yang sama sebesar Rp 8 ribu per kilogram. Ini artinya, ada selisih harga sebesar Rp 1.800 per kilogram.

Disparitas harga tersebut terjadi karena biaya pengolahan beras di dalam negeri yang lebih tinggi. Biaya tinggi karena pengolahan beras yang masih konvensional.

Bulog akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan agar biaya produksi beras dapat ditekan. Dengan begitu, harga jual tidak terlalu mahal dibandingkan pasar internasional.

(Baca: Beras Bulog untuk BPNT, Buwas Batal Mundur dari Posisi Dirut)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan