BI: Suku Bunga AS Berpeluang Turun Jika Perang Dagang Berlanjut

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Desy Setyowati

6/7/2019, 10.32 WIB

BI akan memantau perkembangan perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, the Fed berpeluang menurunkan suku bunga acuan tahun ini.
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Ilustrasi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, the Fed berpeluang menurunkan suku bunga acuan tahun ini.

Bank Indonesia (BI) mengatakan, bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed berpeluang menurunkan suku bunga acuannya tahun ini. Salah satu alasannya, perang dagang antara AS dan Tiongkok yang berkepanjangan bisa membuat pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam itu melambat.

Kekhawatiran perlambatan ekonomi akan menjadi pertimbangan The Fed untuk menurunkan suku bunganya tahun ini. “Kalau terjadi pro-long trade war, ekonomi AS turun. Kemungkinan Fed juga tahun ini bisa menurunkan suku bunganya sekali 25 basis poin (bps),” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Kompleks BI, kemarin (5/7).

(Baca: Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed Antarkan IHSG Naik 0,21 %)

Bahkan, Perry memperkirakan The Fed bakal menurunkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate) dua kali tahun depan. Sebab, perang dagang yang berkelanjutan akan membuat The Fed semakin konservatif atau dovish guna mendorong penciptaan tenaga kerja. "Kan mandatnya Fed itu stabilitas harga dan tenaga kerja," katanya.

Meski begitu, proyeksi ini bergantung pada hasil negosiasi antara pemerintah AS dan Tiongkok. Karena itu, BI akan terus melihat perkembangan perang dagang hingga Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang.

(Baca: Ada Sentimen Perang Dagang, Bank Sentral AS Pertahankan Bunga Acuan)

Perry pun bercerita bahwa pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di sela-sela acara G-20 menunjukkan sinyal positif. "Setidaknya, kedua negara sepakat untuk kembali ke meja perundingan. Semoga ini akan terus positif sehingga tentu saja terjadi resolusi antara keduanya," katanya.

Dengan sentimen positif ini, Perry menilai risiko terkait perluasan barang impor akan berkurang. Perluasan barang impor itu dipicu oleh langkah AS yang mengenakan tarif 10% terhadap produk Tiongkok senilai US$250 miliar. Kemudian, Tiongkok membalas dengan memberlakukan bea impor tambahan 5-25% pada produk AS  sebesar US$60 miliar.

Karena itu, Perry memperkirakan The Fed akan mempertahankan Fed Fund Rate jika hasil perundingan antara AS dan Tiongkok positif. "Tetapi, The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuannya 25 bps tahun depan," kata dia.

(Baca: The Fed Batal Pangkas Suku Bunga Acuan, Pasar Bereaksi Negatif)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN