Pertamina Was-was Produksi Blok Rokan Terus Turun Seperti Blok Mahakam

Penulis: Ratna Iskana

9/7/2019, 15.17 WIB

Lifting minyak Blok Rokan tahun ini hanya sebesar 190 ribu BOPD, turun 9,2% dibandingkan realisasi tahun 2018 yang mencapai 209.478 BOPD.

blok rokan, pertamina, chevron,
Katadata | Arief Kamaludin
Ilustrasi, logo Pertamina. Pertamina belum memutuskan skema atau model investasi yang akan dilakukan agar produksi Blok Rokan tidak turun ketika dikelola Pertamina pada 2021.

Pertamina mulai waswas dengan potensi penurunan produksi Blok Rokan ketika mengambil alih kelola dari Chevron Pacific Indonesia pada 2021 mendatang. Apalagi, sudah ada sinyal Chevron akan mengurangi investasi di blok tersebut.

Perusahaan pun khawatir nasib Blok Rokan akan sama dengan Blok Mahakam. Ketika dikelola oleh Pertamina, produksi Blok Mahakam malah terus turun. "Penurunan produksi Blok Mahakam jadi lesson learned bagi kami dalam mengelola blok migas hasil terminasi, terutama Blok Rokan," kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, pada Senin (18/7).

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan lifting minyak Blok Rokan tahun ini hanya sebesar 190 ribu barel minyak per hari ((BOPD), turun 9,2% dibandingkan realisasi tahun 2018 yang mencapai 209.478 BOPD. 

Hingga semester pertama 2019, realisasi produksi minyak siap jual (lifting) Blok Rokan hanya mencapai 194 ribu BOPD. Angka ini lebih rendah dibandingkan empat bulan pertama tahun ini yang mencapai 195 ribu barel per hari (BOPD).

Sedangkan liffting gas Blok Mahakam pada semester I-2019 hanya mencapai 662 juta standar kubik per hari (MMscfd) atau 60,18% dari target tahun ini yang mencapai 1100 MMscfd. Capaian tersebut jauh menurun dari realisasi lifting gas Blok ini ketika masih dikelola oleh Total EP Indonesia pada 2017 lalu yang mencapai 1.286 MMscfd.

(Baca: Pertamina Dibayangi Risiko Penurunan Produksi Blok Rokan Tahun 2021)

Karena itu, Pertamina berharap SKK Migas turut menjaga stabilnya produksi Rokan. Apalagi blok tersebut merupakan salah satu penyumbang terbesar lifting migas nasional.

SKK Migas pun sudah mempertemukan Pertamina dan Chevron untuk membicarakan masalah tersebut pada Jumat pekan lalu. Namun Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu belum bisa memastikan skema atau model investasi yang akan dilakukan agar produksi Blok Rokan tidak turun ketika dikelola Pertamina pada 2021.  "Semoga ada jalan keluar dari masalah ini," kata Dharmawan.

Sejauh ini sudah ada tiga opsi transisi yang pernah dibahas Pertamina, Chevron, dan SKK Migas.  Opsi pertama yakni operasi bersama. Opsi kedua, memaksimalkan area di sekitar Blok Rokan yang belum dikelola dan dikembangkan lebih lanjut. Opsi terakhir, perencanaan bersama rencana kerja Blok Rokan. 

(Baca: SKK Migas Targetkan Lifting Blok Rokan dan Mahakam Turun Tahun Depan)

Pentingnya EOR di Blok Rokan

Salah satu yang patut jadi perhatian dalam alih kelola Blok Rokan adalah penerapan teknologi tingkat lanjut enhanced oil recovery (EOR).  Teknologi EOR digunakan Chevron untuk mempertahankan produksi Blok Rokan.

Teknologi itu mencakup injeksi air (waterflood) dan injeksi uap (steamflood). Selain itu, Chevron juga melakukan uji coba teknologi injeksi bahan kimia di Lapangan Minas, Blok Rokan.

Namun menurut Deputi Operasi SKK Migas Fatar Yani Abdurahman, Chevron tidak lagi menerapkan teknologi EOR menjelang kontrak berakhir pada 2021. Padahal laju penurunan produksi secara alamiah (decline) Blok Rokan sudah mencapai 4-5%.

"EOR itu bukan proyek satu dua tahun. Jadi tidak mungkin Chevron melakukan itu saat akan berakhir kontraknya," ujar Fatar saat dihubungi Katadata.co.id, akhir pekan lalu.

Dengan kondisi itu, Pertamina ingin segera menerapkan teknologi EOR untuk meningkatkan produksi Blok Rokan pada 2021. "Pertamina merencanakan hal ini dalam rangka menggenjot produksi Rokan ketika sudah resmi dikelola Pertamina. Namun, kami masih terus berdiskusi dengan Chevron untuk persiapannya dan opportunity lain,"kata VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman ke Katadata.co.id kemarin.

Teknologi EOR digadang-gadang bisa mendongkrak produksi minyak. Chevron telah melakukan uji coba teknologi tersebut dengan menginjeksi bahan kimia ke sumur minyak di Lapangan Minas. Hasilnya, terdapat potensi produksi minyak hingga 100 ribu barel per hari. Dengan asumsi tersebut, produksi Blok Rokan diproyeksi mencapai 500 ribu barel per hari pada 2024 sesuai dengan proposal Pertamina kepada pemerintah.

(Baca: Empat Jurus SKK Migas Pertahankan Produksi Blok Rokan)

Reporter: Yura Syahrul dan Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN