PHK Massal 18 Ribu Pegawai, Apa yang Salah dengan Deutsche Bank?

Penulis: Martha Ruth Thertina

9/7/2019, 18.52 WIB

Deutsche Bank menyatakan PHK massal bagian dari strategi reorganisasi yang akan menelan biaya US$ 8,3 miliar atau sekitar Rp 117 triliun dalam tiga tahun.

Deutsche Bank PHK
Deutsche Bank
Suasana di salah satu kantor cabang Deutsche Bank.

Deutsche Bank mengumumkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pegawai besar-besaran, pada akhir pekan lalu. Sebanyak 18 ribu pegawai terkena PHK, atau 20% dari total pegawainya. Kebijakan tersebut mulai direalisasikan pada awal pekan ini.

BBC melaporkan, staf yang bekerja di divisi perdagangan saham (shares trading) di London, New York, dan Tokyo diberitahu bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan. Begitu juga pegawai pada divisi yang sama di Sydney dan Hong Kong, seperti diberitakan Reuters.

Seorang juru bicara menyatakan keputusan tersebut bertujuan untuk membuat bank lebih ramping dan kuat. Deutsche Bank belum mengungkapkan detail PHK, namun bank akan menarik diri dari aktivitas terkait perdagangan saham, yang kebanyakan dilakukan di kantor London dan New York.

Deutsche Bank menyatakan PHK tersebut bagian dari strategi reorganisasi yang akan menelan biaya 7,4 miliar euro atau US$ 8,3 miliar (sekitar Rp 117 triliun) dalam tiga tahun.

(Baca: IMF Kategorikan Deutsche Bank Paling Berisiko di Dunia)

Mengutip The Guardian, ini kronologis permasalahan bank berusia 149 tahun tersebut:

1989-1999: Rencana Pendirian Bank Global

Bank yang berbasis di Frankfurt Jerman ini memulai periode ekspansi global dengan mengakuisisi Bank Morgan Grenfell di Inggris. Bank kemudian masuk ke pasar Eropa seperti Spanyol dengan membeli Banco de Madrid. Akuisisi merupakan bagian dari upaya untuk mencapai ambisinya sebagai pemain besar bank investasi.

Bank mengkonsolidasikan operasionalnya di AS menjadi satu untuk menghadapi raksasa Wall Street Goldman Sach, kemudian membangun pijakannya di AS dengan mengambil Bankers Trust seharga US$ 10 miliar.   

2001: Masuk Bursa Efek New York

Deutsche Bank melantai di Bursa Efek New York dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama, tidak hanya di Wall Street tetapi industri perbankan global.

2004-2008: Peran Deutsce Bank dalam Krisis Subprime Mortgage

Di tahun-tahun menjelang kejatuhan perbankan, Deutsche Bank merupakan pemimpin untuk produk sekuritas berjaminkan piutang KPR (mortgage-backed securities/MBS). Perusahaan mengumpulkan piutang KPR dalam jumlah besar dan menjualnya kepada investor. Bank menjual MBS bermasalah hingga mulai berjudi dengan produknya sendiri.

Pada 2008, perusahaan mengumumkan kerugian 3,9 miliar euro. Ini merupakan kerugian pertamanya dalam 50 tahun. “Kami telah membuat kesalahan, semua orang melakukan kesalahan,” kata Chief Executive Josef Ackermann.

2009: Penggunaan Detektif Swasta

Investigasi internal menemukan bank merekrut detektif swasta untuk memata-matai orang yang dianggap sebagai ancaman untuk bank, termasuk pemegang saham, jurnalis, dan anggota masyarakat. Kejaksaan Jerman tidak menemukan bukti tindak kriminal atau keterlibatan pejabat senior dalam aktivitas tersebut.

2012: Mundurnya Pimpinan Bank

Bos Deutsche Bank Josef Ackermann mundur pada May 2012, setelah satu dekade memimpin perusahaan. Ia digantikan oleh Anshu Jain dan Jurgen Fitschen yang kemudian mundur setelah mencuatnya skandal Libor.

Setelah itu, bankir Inggris John Cryan mengambilalih posisi, namun dia keluar pada 2018 lantaran gagal untuk melepaskan bank dari masalah. Harga saham Deutsche anjlok lebih dari separuh di bawah kepemimpinan Cryan.

Dia digantikan oleh Christian Sewing yang pada akhir pekan lalu mengumumkan bahwa perusahaan tidak memiliki pilihan selain memangkas 18 ribu staf-nya.

2015-2018: Bank Didenda untuk Beragam Pelanggaran

Deutsche didenda US$ 2,5 miliar oleh regulator Amerika Serikat (AS) dan Inggris karena mencurangi suku bunga Libor. Dalam kasus tersebut, bank juga diperintahkan untuk memecat tujuh pegawainya dan dituduh menghalangi penyelidikan.

Di AS, Bank mendapat denda tambahan US$ 258 juta karena melakukan bisnis dengan negara yang terkena sanksi dari pemerintah AS seperti Iran dan Syria.

Pada September 2016, saham Deutsche anjlok seiring berita bahwa perusahaan menghadapi ancaman denda US$ 14 miliar akibat salah menjual MBS di AS. Meskipun kemudian Departemen Kehakiman AS menyepakati denda lebih rendah yaitu US$ 7,2 miliar.

Di 2017, regulator AS dan Inggris menjatuhkan denda US$ 630 juta kepada Deutsche Bank lantaran gagal mencegah pencucian uang US$ 10 miliar oleh orang Rusia.

Terakhir, pada 2018, regulator keuangan New York menjatuhkan denda US$ 205 juta untuk pengawasan yang lemah dalam bisnis forex antara tahun 2007-2013.

2019: Gagalnya Merger

Setelah berjuang untuk pulih dari krisis finansial, Deutsche berupaya mengatur merger dengan bank Jerman lainnya yang bermasalah, Commerzbank. Pemerintah Jerman mendukung rencana tersebut. Namun, kedua bank menyatakan risiko dan biaya merger terlalu besar sehingga kesepakatan tidak tercapai.

Deutsche menyatakan bahwa pihaknya akan mengkaji berbagai alternatif, hingga keluar pengumuman PHK massal, pekan lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha