Menteri Susi Tuding Garam Impor Bocor, Ini Bantahan Kemenko Maritim

Penulis: Rizky Alika

Editor: Happy Fajrian

12/7/2019, 20.38 WIB

Jatuhnya harga di tingkat petambak dinilai karena kualitas garam rakyat belum sesuai kadar yang diperlukan industri, bukan lantaran garam impor bocor.

Menteri Susi Tuding Kebocoran Garam Impor, Ini Bantahan Kemenko Maritm
ANTARA FOTO/SAIFUL BAHRI
Pekerja mengangkut garam saat panen di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019). PT Garam menargetkan produksi garam 2019 sebanyak 450 ribu ton naik dari target produksi tahun 2018 sebesar 300 ribu ton dengan realisasi pencapaian sebanyak 325 ribu ton. Naiknya target tersebut berdasarkan prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun ini lebih lama dari tahun lalu.

Kementeriaan Koordinator Bidang Kemaritiman membantah dugaan garam impor bocor. Menurut Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Agung Kuswandono, tidak ada data yang menyebutkan garam impor merembes ke pasar.

"Sampai saat ini di Maritim, ada tidak data kebocoran? Kalau ada, disampaikan. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (KKP) sebut belum ada data itu," kata Agung di kantornya, Jakarta, Jumat (12/7).

Ia menilai penurunan harga garam di tingkat petambak terjadi lantaran kualitas garam rakyat belum sesuai dengan kadar natrium klorida (NaCl) yang diperlukan industri. Akibatnya, pasokan garam lokal tidak terserap sehingga harganya jatuh. Adapun industri membutuhkan garam kualitas K1, yaitu dengan kadar NaCl 95-98%.

Sementara itu, harga garam yang anjlok merupakan garam kualitas K2 dan K3. Garam K2 memiliki kadar NaCl 90 - 95 %, sedangkan garam K3 memiliki kadar NaCl kurang dari 90%.

(Baca: Untuk Kebutuhan Industri, Kemenperin Bantah Impor Garam Kebanyakan)

Meski begitu, industri tetap menyerap garam rakyat. Sebab, ada kesepakatan bagi perusahaan pengolah garam dan perindustrian untuk membelinya. Bila penyerapan tidak dilakukan, kuota impor garam tidak akan diberikan kepada perusahaan atau industri.

Pada 2018 hingga 2019, sebanyak 15 perusahaan menjalin kerja sama dengan Kementerian Perindustrian untuk memanfaatkan garam lokal. Hingga saat ini, realisasi penyerapannya mencapai 962,2 ribu ton.

Adapun, total produksi garam pada 2018 mencapai 2,71 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 369,6 ribu ton merupakan produksi dari PT Garam. Sementara total kebutuhan garam nasional mencapai 4,7 juta ton. "Jadi separuhnya dipenuhi dengan impor," ujarnya.

Meski begitu, pihaknya juga mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. Dengan intensifikasi, produksi garam dapat ditingkatkan menjadi satu juta ton. Selain ada peningkatan volume, produksi garam juga semakin berkualitas sehingga kadar NaCl diharapkan meningkat.

(Baca: KKP Minta Akurasi Data Klasifikasi Kebutuhan Garam Industri)

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan jatuhnya harga garam disebabkan oleh impor garam industri yang terlalu banyak. "Impor garam terlalu banyak dan bocor," kata dia.

Menurut dia, harga garam di tingkat petambak bisa stabil bila impor garam diatur agar tidak berlebih dan bocor. Ia menyoroti harga garam rakyat di Cirebon sempat menyentuh Rp 300 per kilogram pada awal Juni lalu. Seharusnya, petani dapat menjual garam di atas Rp 1.000 per kilogram.

Adapun impor garam pada tahun ini ditetapkan sebanyak 2,7 juta ton. Kemenperin menyebutkan, kebutuhan garam industri sebesar 3,7 juta ton per tahun. Sedangkan sisa pasokan sebesar 1,12 juta ton dipenuhi dari pasokan lokal.

(Baca: Menteri Susi Tuding Harga Garam Anjlok karena Banyak Impor )

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha