Sudah Dibangun Satu Tahun, Bendungan Rakmono Belum Bisa Dioperasikan

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Safrezi Fitra

13/7/2019, 15.55 WIB

"Memang sudah selesai, sudah setahun, tapi ada masa jeda. Karena bendungan itu bisa longsor," ujar Dirjen SDA Kementerian PUPR.

Jokowi Meresmikan Bendungan Raknamo
www.setkab.go.id
Jokowi Meresmikan Bendungan Raknamo, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/1/2018)

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan bahwa Bendungan Rakomono yang terletak di Tanju, Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah selesai dibangun. Namun, bendungan ini belum bisa dioperasikan, karena masih harus dibangun jaringan air baku.

Direktur Jenderal SDA Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan Bendungan Rakmono bersifat multifungsi. Selain  menghasilkan air baku, bendungan ini akan dimanfaatkan untuk irigasi, sebagai tempat pariwisata, dan bisa digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Nantinya air baku ini akan dimanfaatkan oleh masyarakat Kupang

Menurutnya, pembangunan bendungan ini juga membutuhkan jeda waktu untuk bisa difungsikan. "Memang sudah selesai, sudah setahun, tapi ada masa jeda. Karena bendungan itu bisa longsor," ujarnya, saat ditemui di Gedung Kementerian PUPR, Jumat (12/7).

(Baca: Resmikan Bendungan Raknamo, Jokowi: Kesejahteraan Rakyat NTT Bisa Naik)

Pemerintah menargetkan dapat membangun 65 bendungan sepanjang 2015-2019. Namun, karena beberapa kendala, target tersebut diprediksi baru akan terpenuhi pada 2023. Sebanyak 49 bendungan di antaranya merupakan proyek baru, sedangkan 16 bendungan sisanya merupakan proyek lanjutan. Biaya investasinya mencapai Rp 82,5 triliun yang berasal dari Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara.

Tahun lalu, sebanyak 14 bendungan sudah rampung, diantaranya Bendungan Rajui (Aceh), Jatigede (Jawa Barat), Bajulmati (Jawa Timur), Nipah (Jawa Timur), Titab (Bali), Paya Seunara (Aceh) Teritip (Kalimantan Timur), Raknamo Tanju (NTB), Mila dan Rotiklod (Nusa Tenggara Timur), Logung (Jateng), Sei Gong (Kepulauan Riau), dan Sindangheula (Banten).

Pada 2019, terdapat 15 bendungan yang ditargetkan selesai konstruksinya yaitu Bendungan Gongseng (Jawa Timur), Karalloe (Sulawesi Selatan), Passeloreng (Sulawesi Selatan), Tapin (Kalimantan Selatan), Bintang Bano (Nusa Tenggara Barat), Way Sekampung (Lampung), Ladongi (Sulawesi Tenggara), Napun Gete (Nusa Tenggara Timur), Ciawi (Jawa Barat), Sukamahi (Jawa Barat), Kuningan (Jawa Barat) Karian (Banten), Keureuto (Aceh Utara), Gondang (Jawa Tengah), dan Marangkayu (Kalimantan Timur).

(Baca: Proyek 65 Bendungan: Progres Bendungan Karian Banten Capai 60%)

Di sisi lain, terdapat 10 bendungan yang konstruksinya dimulai tahun ini, diantaranya Bendungan Jenelata (Sulawesi Selatan), Pelosika (Sulawesi Utara), Jragung (Jawa Tengah), Digoel (Papua), Mbay (Nusa Tenggara Timur), Tiu Suntuk (Nusa Tenggara Barat), Tiro (Aceh), Budong-Budong (Sulawesi Barat), Ameroro (Sulawesi Tenggara), dan Bulango Ulu (Sulawesi Utara).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha