Tak Ada Rapat, Erick Thohir Pastikan Daftar Menteri Jokowi Hoaks

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

17/7/2019, 18.22 WIB

Setelah memimpin Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Erick menyiratkan keinginan untuk kembali fokus menjadi pengusaha.

Erick Thohir
Arief Kamaludin (Katadata)

Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Erick Thohir memastikan daftar menteri kabinet Jokowi yang beredar di media sosial adalah hoaks. Menurutnya, tidak ada rapat pada hari Minggu (14/7) di Bogor, Jawa Barat.

Erick menuturkan, pidato Jokowi selesai sekitar pukul 21.00 WIB. "Habis pidato, Beliau langsung ke panggung sebelah yang ada konser Slank, jadi rapat itu tidak pernah ada," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (17/7).

Selain itu, dia menyorot nama Pramono Anung yang bertindak sebagai sekretaris dalam risalah rapat. Padahal, dia menuturkan Pramono tidak bisa hadir ke acara pidato Jokowi dalam Visi Indonesia di Sentul International Convention Center (SICC).

Erick juga menjelaskan bahwa susunan kabinet bukan berdasarkan diskusi antara Jokowi dan para menteri. Sebab, seleksi kabinet adalah hak prerogatif milik presiden. Namun, dia mengatakan ada kemungkinan Jokowi membentuk kabinet yang mengakomodir partai koalisi.

(Baca: Hoaks Daftar Menteri Kabinet Jokowi-Ma’ruf Beredar di Media Sosial)

Meski begitu, dia mengungkapkan, tugas TKN selesai setelah Pemilihan Presiden 2019. Sehingga, dia tidak ingin ikut campur dalam proses pembentukan kabinet. Apalagi, Presiden sebagai petahana tidak perlu transisi untuk pemerintahan lima tahun ke depan.

Erick pun memberikan sinyal ingin menjalankan tugas sebagai pelaku usaha sehingga punya waktu untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. "Tidak semua harus jadi pelayan publik, masing-masing punya pemikiran atau jalur sendiri," katanya.

Menurutnya, semua pihak harus menjalankan tugas sesuai keahlian untuk menyambut Indonesia sebagai negara besar dalam era 2030-2045. Sehingga, dia berharap pertumbuhan ekonomi nasional bisa terus di atas 5%.

Dia menyatakan, Indonesia harus punya cetak biru ideologi ekonomi yang baru. Apalagi, persaingan global terus berlangsung di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

(Baca: Bertemu CEO Go-Jek, JK Sebut Pengusaha Muda Jangan Jadi Menteri)

Erick pun menjelaskan pemerintah sudah melakukan langkah untuk menangkal hoaks. Namun, dia meminta semua pihak untuk antisipasi kemajuan teknologi dan pemanfaatannya dalam penyebaran informasi. Dia menyorot keunggulan media berita yang punya check and balance daripada media sosial yang tak punya tanggung jawab.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan