Angkatan Laut AS Jatuhkan Pesawat Drone Iran, Harga Minyak Naik 2%

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Martha Ruth Thertina

19/7/2019, 13.04 WIB

Proyeksi jangka panjang untuk minyak bearish. Badan Energi Internasional merevisi turun proyeksi permintaan minyak dunia menjadi 1,1 juta barel per hari.

Sumur Minyak
Chevron

Harga minyak naik sekitar 2% pada perdagangan Jumat (19/7) setelah Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa Angkatan Laut-nya telah menjatuhkan pesawat tak berawak Iran di Selat Hormuz. Langkah tersebut menambah kekhawatiran pasar akan naiknya ketegangan di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI untuk pengiriman Agustus sempat menyentuh US$ 56,36 per barel pada Jumat ini, naik 1,91% dibandingkan posisi penutupan kemarin. Saat berita ini ditulis, harganya sedikit turun menjadi US$ 56,12 per barel, namun masih 1,48% di atas posisi penutupan kemarin.  

Sedangkan harga minyak brent sempat menyentuh US$ 63,09 per barel, atau naik 2,24% dibandingkan posisi penutupan kemarin. Saat berita ini ditulis, harganya sedikit turun menjadi US$ 63,09 per barel, namun masih 1,89% di atas posisi penutupan kemarin.

(Baca: Subsidi Dipangkas, Pertamina Isyaratkan Potensi Kenaikan Harga Solar)

Selain insiden baru di Timur Tengah, Managing Partner Vanguard Markets mengatakan potensi pemangkasan agresif bunga acuan AS juga turut menjadi pendorong kenaikan harga minyak. "Ini memberikan dukungan untuk pasar minyak di tengah lanskap yang sangat bearish," kata dia seperti dikutip Reuters, Jumat (19/7). 

Pemerintah AS melaporkan, kapal Angkatan Laut-nya telah “menghancurkan” pesawat tak berawak Iran di Selat Hormuz lantaran pesawat tersebut mengancam kapal. Namun, pihak Iran menyatakan tidak mendapatkan informasi tentang kehilangan pesawat tak berawak.

Langkah ini dilakukan setelah Inggris berjanji untuk mempertahankan minatnya dalam pengiriman di regional tersebut. Di sisi lain, Kepala Komandan Sentral AS Kenneth McKenzie mengatakan bahwa AS akan bekerja secara agresif untuk memastikan kelancaran mobilitas setelah penyerangan kapal tanker minyak yang baru-baru ini terjadi di teluk.

(Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Diprediksi Stagnan Akibat Dua Faktor)

Meski begitu, proyeksi jangka panjang untuk minyak justru semakin bearish. Badan Energi Internasional (IEA) menurunkan perkiraan permintaan minyak 2019 karena perlambatan ekonomi global di tengah perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan IEA merevisi prediksi pertumbuhan permintaan minyak global 2019 menjadi 1,1 juta barel per hari dan dapat memangkasnya lagi jika ekonomi global, terutama Tiongkok melemah lebih jauh.

Tahun lalu, IEA memproyeksikan permintaan minyak 2019 akan tumbuh 1,5 juta barel per hari, namun kemudian memangkas perkiraan pertumbuhan menjadi 1,2 juta barel per hari pada Juni tahun ini.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan