Cara Gojek Meminimalkan Sampah Plastik Lewat Go-Food

Penulis: Desy Setyowati

22/7/2019, 15.35 WIB

Gojek sediakan tas khusus bagi pengemudi untuk mengurangi penggunaan plastik.

Gojek sediakan tas khusus bagi pengemudi untuk mengurangi penggunaan plastik.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi. Gojek sediakan tas khusus bagi pengemudi untuk mengurangi penggunaan plastik.

Sampah plastik mulai menjadi perhatian banyak pihak, salah satunya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Gojek pun turut berpartisipasi dalam mengurangi penggunaan plastik melalui layanannya.

Salah satu caranya, Gojek membagikan tas khusus kepada mitra pengemudi kendaraan roda dua. Atribut itu bisa dimanfaatkan mitra untuk membawa makanan dalam jumlah banyak.

Dengan begitu, Co-Founder Gojek Kevin Aluwi berharap penggunaan plastik melalui Go-Food bisa berkurang. "Tas yang dipakai bisa muat makanan yang lumayan banyak, sehingga tidak perlu plastik," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (22/7).

(Baca: Gojek Luncurkan Logo Baru, Perlengkapan Para Mitra pun Berubah)

Selain itu, sepengetahuannya ada beberapa mitra Go-Food yang menetapkan harga atas peralatan makan yang terbuat dari plastik. Biasanya, mitra menyediakan alat makan berbahan baku plastik secara gratis bagi konsumen.

"Kami lumayan concern atas dampak (plastik) terhadap lingkungan. Ada beberapa solusi, tetapi kami masih dalam tahap relatif awal," kata Kevin.

(Baca: GoFleet, Solusi Bagi Mitra Pengemudi yang Tak Punya Mobil)

Pendiri sekaligus CEO Gojek Grup Nadiem Makarim menambahkan, perusahaannya berminat untuk terlibat dalam upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia. "Di kantor kami tidak ada botol minuman plastik, sudah sekitar empat bulan," kata dia.

Sebelumnya, Susi Pudjiastuti menyampaikan imbauan untuk mengurangi plastik dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu ia sampaikan saat memimpin pawai bebas plastik di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta.

(Baca: Bertemu CEO Go-Jek, JK Sebut Pengusaha Muda Jangan Jadi Menteri)

Dalam orasinya, Susi mengatakan bahwa seharusnya DKI Jakarta malu karena masih membolehkan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Padahal, Bali, Banjarmasin, Balikpapan, dan Bogor telah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai. ”Kalau DKI (Jakarta) rada malu juga sih," katanya, akhir pekan lalu (21/7).

Susi mengatakan, 70% wilayah Indonesia terdiri dari lautan. Sebanyak tujuh persen sampah plastik berakhir di lautan. Oleh karena itu, dia mengancam akan menenggelamkan pembuang sampah plastik ke lautan. "Pembuang sampah plastik ke lautan juga kami tenggelamkan," kata dia.

(Baca: Tak Kurangi Konsumsi, Jakarta Produksi 250 Ton Sampah Plastik Sehari)

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN