Gara-gara Kimi Hime, Kominfo Bakal Revisi Aturan Konten Kreatif

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Happy Fajrian

29/7/2019, 17.42 WIB

Aturan yang ada dinilai sudah tidak sesuai dengan kondisi industri konten kreator saat ini.

kimi hime, kominfo, konten kreatif
YouTube/Kimi Hime
Kimi Hime saat menyampaikan data mengenai kategori usia penonton YouTube-nya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bakal merevisi aturan soal konten kreatif dalam Peraturan Menteri (Permen) Nomor 19 Tahun 2014 Tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif. Hal ini lantaran adanya kasus YouTuber Kimi Hime alias Kimberly Khoe yang dilaporkan melanggar tindak asusila dalam konten-kontennya.

Dalam pertemuan bersama Kominfo Senin siang ini (29/7), kuasa hukum Kimi Hime Irfan Akhyari berharap Kominfo dapat segera membuat regulasi yang jelas dan rigid bagi para konten kreator agar tidak ada multitafsir dengan ketentuan yang disampaikan.

"Itu usulan Pak Irfan (kuasa hukum Kimi), kami sepakat soal (revisi aturan) itu. Ini sebagai momentum (industri) konten kreatif Tanah Air, untuk menata konten kita lebih baik lagi, bukan soal Kimi semata," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu di kantornya, Senin (29/7).

Pria yang akrab disapa Nando ini mengatakan, hasil pertemuannya dengan kuasa hukum Kimi Hime hari ini membahas soal alasan latar belakang Kominfo melakukan penagguhan konten YouTube Kimi beberapa hari yang lalu, serta membahas sejumlah regulasi, ketentuan, dan koridor dalam membuat konten internet.

(Baca: Kominfo Laporkan Sembilan Konten Youtuber Kimi Hime ke Google)

Menurutnya, Kominfo sebagai regulator menyadari bahwa pentingnya bimbingan (guidance) regulasi mengenai Permen yang terkait sejumlah pasal Undang-Undang ITE yang  melanggar tindak kesusilaan. Dia menilai aturan dalam Permen No. 19/2014 sudah tertinggal jauh dengan kondisi industri konten kreator saat ini.

"Kami ingin sesuaikan situasi terbaru, sesuaikan dengan konten-konten kreasi hari ini, termasuk kasus Kimi," ujarnya. Dia menambahkan, saat ini revisi aturan tersebut masih digodok oleh Kominfo di Ditjen Aptika. Ia menjelaskan, urgensi merubah Permen tersebut sudah ada sebelumnya, bukan semata-mata karena adanya kasus konten Kimi Hime.

Dia memastikan bahwa revisi Permen itu akan mengatur apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh konten kreator. Ia menjelaskan, Kominfo akan mendorong apa saja ketentuan yang masuk ke dalam Permen, atau guidance yang ada di media sosial seperti YouTube, Instagram, dan sebagainya, atau bahkan mengkombinasikan keduanya.

"Meski ada perdebatan soal (aturan ini), menteri kami punya pemahaman light touch regulation," ujarnya. Adapun, light touch regulation artinya, pembuat kebijakan yang tidak ketat.

(Baca: Kimi Hime vs Kominfo: Heboh Blokir Video Youtube)

Ia menjelaskan, untuk saat ini belum ada konten yang akan diblokir lagi oleh Kominfo karena sejauh pengamatan mereka, baru ada 3 konten yang dianggap vulgar dan 6 konten yang dianggap melanggar ketentuan terkait batasan umur. "Belum ada (konten yang bakal diblokir) sementara," ujarnya.

Sinkronisasi Regulasi dengan Aplikasi

Kuasa Hukum Kimi Hime Irfan Akhyari mengatakan, kedatangannya hari ini atas dasar undangan dari Kominfo. Dia berharap ke depannya agar ada kejelasan aturan bagi konten kreator yang lebih jelas. Sebab, kasus ini bukan hanya soal Kimi saja tetapi juga untuk para konten kreator lainnya agar mereka bisa berkembang sesuai aturan yang jelas. 

"Masukan dari kami, aturan-aturan ini bagaimana konten bisa dinaikkan atau tidak, tidak hanya dari pengguna saja tapi juga pemilik aplikasi seperti YouTube. Jangan seolah-seolah kita memiliki standar ganda, dari aplikasi perbolehkan tapi dari Kominfo dilarang. Ini harus diharmonisasikan," ujar Irfan.

Meski Kimi tidak dapat hadir dalam pertemuan bersama Kominfo hari ini, Irfan berjanji akan menghadirkan kliennya tersebut dalam pertemuan bersama Menteri Kominfo Rudiantara pekan ini untuk membahas soal batasan-batasan konten kreator.

(Baca: Kontennya Diblokir Kominfo, Youtuber Kimi Hime Minta Bantuan Jokowi)

Dia berharap, Permen ini dapat mengatur masalah konten yang nnt harus diperhatikan konten kreatif. Sebab, menurutnya kasus Kimi Hime ini seharusnya bisa jadi momentum perbaikan agar regulasinya bisa lebih jelas dan detail lagi. "Saya yakin Kominfo dapat memperhatikan ini, apalagi ini jadi sorotan Pak Menteri," katanya.

Terkait tiga konten Kimi yang sebelumnya sempat ditangguhkan oleh Kominfo, dia masih meminta detail seperti apa yang akan menjadi batasan dalam konten tersebut. Menurutnya, apabila Kominfo meminta untuk mengedit dan memotong video tersebut maka mereka akan melakukannya.

"Kami minta masukan Kominfo, lalu akan kami edit konten-konten yang dianggap tidak sejalan dengan kesusilaan menurut padangan Kominfo," ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN