Persaingan Ketat, Peretail Konvensional dan Online Rebutan Karyawan

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ratna Iskana

30/7/2019, 07.27 WIB

Karyawan ritel offline memilih pindah bekerja ke online karena gaji yang lebih besar.

persaingan ritel, konvensional dan online
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, aktivitas belanja di sebuah supermarket. Persaingan bisnis peritel konvensional dengan ritel online semakin ketat.

Persaingan perdagangan antara ritel offline dan online semakin ketat. Ritel offline bahkan harus menghadapi persaingan pembajakan karyawan oleh peritel online.

CEO Lotte Group Joseph Buntaran mengatakan karyawan ritel konvensional kerap pindah bekerja ke bisnis online karena mendapatkan tawaran gaji yang tinggi. "Repotnya lagi pembajakan karyawan dengan bayaran luar biasa tinggi, gajinya hampir dua kali lipat," kata Joseph di Grand Mercure Hotel, Jakarta, Senin (29/7).

Sementara ritel offline tidak bisa menaikkan gaji karyawan karena meningkatkan biaya operasional. Maklum saja, sebesar 40-50% anggaran ritel digunakan untuk biaya operasional. Biaya tersebut cukup besar karena ritel offline memiliki jumlah karyawan yang lebih banyak.

Sedangkan karyawan ritel online biasanya lebih sedikit sehingga biaya operasional tidak besar. Ditambah dengan biaya logistik yang dapat ditekan karena pengiriman barang dilakukan tanpa biaya. Satu-satunya risiko ritel online adalah menjual produk dengan potongan harga yang tingggi. "Makanya pemain online bisa jual rugi," ujarnya.

Joseph pun berharap pemerintah segera menerapkan aturan setara antara ritel offline dengan pedagang online. Sebab, munculnya ritel online telah berpengaruh terhadap kinerja ritel offline.

(Baca: Retail Offline Tutup Gerai, Marketplace Bahan Pangan Justru Menjamur)

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey memperkirakan jumlah transaksi online akan tumbuh hingga 10% pada tahun ini. "Sementara pertumbuhan tahun lalu 7-8% dari total transaksi ritel," ujarnya.

Namun, ia menilai transaksi online tersebut masih kecil dibandingkan ritel konvensional. Terlebih lagi, ritel offline melakukan inovasi dengan menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Ada pun, inovasi yang dilakukan seperti relokasi toko ke daerah produktif serta memperkecil ukuran ritel.

Ia pun mengatakan, ritel offline juga mulai menyediakan penjualan secara online. Berdasarkan catatannya, 95% ritel offline telah membuat sarana transaksi secara online.

Dengan menyediakan alternatif transaksi secara online, penjulalan ritel dinilai akan meningkat. "Transaksinya sudah mulai meningkat meski belum signifikan," ujarnya.

(Baca: Hari Belanja Diskon Bertabur Promo 74 Persen)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan