Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani Juli 2019 Naik 1,46%

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Ekarina

1/8/2019, 17.50 WIB

Selain di tingkat petani, harga gabah kering panen di tingkat penggilingan juga mengalami kenaikan meski lebih rendah.

Harga Gabah, BPS, Petani
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Petani dikawasan Marunda, Cilincing, Jakarta mulai sibuk memanen padi yang sudah mulai menguning (5/7).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga gabah kering di tingkat petani selama Juli 2019 dibanding bulan sebelumnya naik 1,46% menjadi Rp 4.618 per kilogram. Kepala BPS Suhariyanto menyatakan hasil tersebut didapat berdasarkan survei monitoring harga produsen gabah.

"Survei dilakukan terhadap 1.734 observasi transaksi penjualan gabah di 27 provinsi terpilih. Hasilnya, rata-rata harga gabah kering panen di tingkat petani Rp 4.618 per kilogram atau naik 1,46%," katanya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (1/8).

Sementara di tingkat penggilingan, harga gabah kering panen juga mengalami kenaikan, kendati persentasenya lebih rendah yakni 1,22% menjadi Rp 4.712 per kilogram dibanding bulan sebelumnya.

(Baca: Usai Panen Raya, Nilai Tukar Petani Naik 0,38% pada Mei 2019)

BPS juga mencatat, harga tertinggi gabah di tingkat petani Rp 8.673 per kilogram dan di tingkat penggilingan Rp 8.683 per kilogram. Sementara, harga terendah di tingkat petani dan tingkat penggilingan masing-masing Rp 3.500 per kilogram dan Rp 3.600 per kilogram.

Harga tertinggi di tingkat petani dan di tingkat penggilingan berasal dari GKG varietas Unus Kuning & Unus Mayang yang terjadi di Kecamatan Tatah Makmur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Sedangkan, harga terendah di tingkat petani dan penggilingan berasal dari kualitas rendah varietas Pandan Wangi terjadi di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Observasi harga terutama berasal dari lima provinsi di Jawa sebanyak 845 observasi atau 48,73%, diikuti delapan provinsi di Sumatera dengan jumlah 402 observasi sebesar 23,18%,. Kemudian empat provinsi di Kalimantan dengan 152 observasi atau 8,77%, tiga provinsi di Sulawesi 145 observasi sebesar 8,36%.

(Baca: Pelaku Usaha Nilai Kenaikan HPP Gabah Harus di Atas 10%)

Lalu dua provinsi di Nusa Tenggara dengan 111 observasi sebesar 6,40%, provinsi Bali 68 observasi atau 3,92%, dua provinsi di Maluku 7 observasi 0,40% dan dua provinsi di Papua 4 observasi sebesar 0,23%.

Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah masih didominasi transaksi penjualan gabah kering panen sebanyak 1.270 observasi atau 73,24%, gabah kualitas rendah sebanyak 237 observasi atau 13,67% dan gabah kering giling sebanyak 227 observasi sebesar 13,09%. "Dari hasil observasi tersebut, tidak terdapat kasus harga di bawah HPP baik di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan," tutup Suhariyanto.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan