Harga Jual Gas Rendah, Donggi Senoro Pangkas Proyeksi Produksi LNG

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Sorta Tobing

1/8/2019, 18.41 WIB

Pada 2018, Donggi Senoro memproduksi 41 kargo LNG dengan delapan kargo dijual ke pasar spot.

produksi lng kilang donggi senoro
Katadata
Ilustrasi. PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) memperkirakan produksi dari kilang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pada tahun ini lebih rendah dari target 43 kargo.

PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) memperkirakan produksi dari kilang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pada tahun ini lebih rendah dari target 43 kargo. Pasalnya, harga jual LNG saat ini sedang rendah.

"Prospek produksi hingga akhir tahun ini mungkin lebih rendah dari 43 kargo. Kami juga akan terus memantau harga, " kata Direktur Operasi PT Donggi Senoro LNG Kurniawan Rahardjo saat ditemui di acara Gas Indonesia and Exhibition, Kamis (1/8).

Ia mengatakan, saat ini sebanyak 31 hingga 32 kargo sudah memiliki pembeli jangka panjang. Enam lainnya akan dijual di pasar spot, sementara sisanya belum terjual. Pada 2018, Donggi Senoro memproduksi 41 kargo LNG dengan delapan kargo dijual ke pasar spot.

"Kami ini sensitif dengan kargo spot sebenarnya. Karena produksi kami untuk long terms buyer (kontrak jangka panjang)," ucapnya.

(Baca: Hingga April, Produksi Gas Pertamina Medco Tomori Lewati Target)

Pasokan gas kilang tersebut berasal dari PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi, PT Medco E&P Tomori Sulawesi, dan Tomori E&P Ltd melalui joint operating body (JOB) Pertamina –Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB PMTS) dan PT Pertamina EP melalui Proyek Pengembangan Gas Matindok (MGDP).

Donggi-Senoro merupakan kilang gas cair (LNG) keempat yang dibangun pemerintah setelah Arun, Bontang dan Tangguh (Train I dan II). Investasi yang ditanamkan khusus untuk membangun kilangnya mencapai Rp 37,5 triliun atau hampir separuh dari total investasi mega proyek tersebut.

Kilang berkapasitas 2,1 juta ton per tahun ini menjadi awal pembangunan kilang dengan skema hilir. Proyek ini memisahkan produksi gas alam cair dari kegiatan hulu. Skema ini juga menguntungkan negara sebab memungkinkan pembangunan kilang tanpa diperlukan pergantian biaya (cost recovery) ketika mulai beroperasi.

(Baca: Pertamina Proyeksi Indonesia Defisit Gas Mulai 2035)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan