Saat Startup Lokal Tukar Ilmu dengan Perusahaan Rintisan Jerman

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

2/8/2019, 17.41 WIB

Dari seribu startup di Indonesia, setengahnya ada di Jakarta.

Ilustrasi digital
123rf

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Startup AsiaBerlin (SUAB) mengembangkan ekosistem startup Indonesia dan Jerman. Kolaborasi ini adalah implementasi nota kesepahaman kedua pihak pada 16 Mei 2019 lalu.

Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari menyatakan, sudah ada setidaknya 1.019 startup di Indonesia dalam catatan Bekraf. Sedangkan riset Google-Temasek menyebut, ekonomi digital di Indonesia mencapai US$ 27 miliar pada 2018.

"Ini adalah Negara yang menjanjikan bagi pasar ekonomi digital terlihat dari banyaknya jumlah startup di Indonesia,” kata Hari dalam siaran pers, Jumat (2/8).

Dia menjelaskan bahwa di Asia, pasar digital Indonesia hanya tertinggal oleh Tiongkok dan India. Ibu Kota Jakarta adalah kota dengan ekosistem startup mencapai 51,91% jumlah total startup di Indonesia, atau sekitar 529 perusahaan.

(Baca: Efek Berantai Infrastruktur Digital Indonesia)

Penasihat Kebijakan di Departemen Senat untuk Ekonomi, Energi, dan Perusahaan Publik Berlin Elvir Becirovic mengatakan, kerja sama ini dapat mempererat hubungan Berlin dan Jakarta. "Kami menunggu di Berlin untuk kedatangan banyak startup dari Indonesia,” ujar Elvir.

Kerja sama ini meliputi networking session dan pitching oleh masing-masing negara. Indonesia menghadirkan Matakota, Moretrash, Qlue, dan Kata.AI. Sementara itu, perwakilan Jerman adalah whyTaxi, Ode.Systems, MotionLab.Berlin, dan Falling Walls.

Startup digital memang tumbuh pesat di Indonesia. Namun, di antara masalah yang masih membelit adalah soal kurangnya akses modal dan sumber daya manusia. Selain itu, keberadaan startup yang masih terpusat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) membuktikan kurangnya pemerataan.

(Baca: 10 Startup yang dapat Suntikan Modal dari SoftBank)

Berdasarkan hasil survei terhadap 992 startup oleh Bekraf bersama Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) dalam Buku Mapping dan Database Startup Indonesia 2018 akses permodalan masih menjadi kendalai terbesar bagi perusahaan rintisan di tanah air, yakni sebesar 38,83%.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN