Airlangga Optimistis Pertumbuhan Manufaktur Meningkat di Kuartal III

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ratna Iskana

6/8/2019, 22.16 WIB

Pertumbuhan sektor manufaktor ditopang masuknya investasi baru ke Indonesia. Sehingga produksi manufaktor meningkat.

kemenperin, industri manufaktur
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto optimistis pertumbuhan sektor manufaktur akan meningkat di triwulan III 2019.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memproyeksi pertumbuhan sektor manufaktur akan meningkat pada triwulan III 2019. Pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh investasi yang masuk sehingga mendorong peningkatan produksi manufaktur.

Selain itu, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dinilai dapat meningkatkan pertumbuhan sektor manufaktur, terutama jika segera terjadi kesepakatan dengan Eropa. Sebab, ekspor tekstil, pakaian, dan alas kaki ke Benua Biru tersebut dikenakan bea masuk sebesar 10-20%.

Sementara, negara lain dikenakan bea masuk sebesar 0%. Adapun, perjanjian dagang Indonesia dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA) ditargetkan rampung pada semester I 2020.

(Baca: Tiga Menteri Ekonomi Pesimistis Target Pertumbuhan 2019 Tercapai)

Lebih lanjut Airlangga mengatakan pemerintah juga akan mendorong industri yang memiliki daya saing tinggi seperti produk baja. "Baja kena anti dumping Tiongkok. Ini negosiasinya harus lebih tinggi," ujar Airlangga di kantornya, Jakarta, Selasa (6/8).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada industri pengolahan (manufaktur) pada triwulan II 2019 hanya sebesar 3,54%. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan II 2018 sebesar 3,88%. Secara triwulan, pertumbuhan manufaktur juga lebih rendah dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 3,86%.

Airlangga menyebut pelambatan pertumbuhan sektor manufaktir karena faktor eksternal. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi global yang melambat. "Di Singapura saja, PMI (Purchasing Managers Index) indeksnya beberapa bulan terakhir sudah di bawah 50%, kita sebenarnya lebih tinggi dari itu," katanya.

(Baca: Pengusaha Keluhkan Bisnis Manufaktur Melambat Akibat Permintaan Lemah)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN