Harga Batu Bara Agustus Naik Disokong Permintaan Tiongkok dan Korea

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Martha Ruth Thertina

6/8/2019, 11.57 WIB

HBA Agustus sedikit lebih tinggi dibandingkan Juli yang terendah dalam 2,5 tahun.

batu bara, harga batu bara, harga batu bara acuan, hba agustus 2019
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Aktivitas di tambang Batu bara legal di Desa Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (17/1).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) dengan kalori 6.322 pada Agustus 2019 sebesar US$ 72,67 per ton. Harga ini naik 1,04% dibandingkan bulan lalu, yaitu US$ 71,92 per ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan kenaikan HBA dipengaruhi peningkatan permintaan Tiongkok untuk batu bara kalori menengah dan atas. "Ada sedikit peningkatan demand juga dari Korea," ujarnya kepada katadata.co.id, Selasa (6/8).

Selain itu, ia menyebut adanya gangguan pasokan batu bara dari tambang di Australia. Hal ini menyebabkan indeks Global Coal dan Newcastle mengalami penguatan pada Juli.

(Baca: Ada PLTU Mulai Beroperasi, PLN Butuh 109 Juta Ton Batu Bara di 2020)

HBA sempat naik hingga menembus US$ 100 per ton pada 2018, namun kemudian berangsur turun. HBA berada dalam tren turun sepanjang tahun ini. Bahkan, HBA Juli yang sebesar US$ 71,92 merupakan yang terendah dalam nyaris 2,5 tahun.

Pergerakan turun harga batu bara tersebut seiring kebijakan Tiongkok yang membatasi impor batu bara dan meningkatkan produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sedangkan untuk Juli lalu, ada beberapa faktor lain yang mendorong penurunan harga batu bara. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menyebut faktor pembatasan impor batu bara oleh India.

(Baca: Cadangan Batu Bara 41 Miliar Ton, Mampu Berproduksi Lebih 100 Tahun)

"India membatasi impor karena beberapa pabrik keramik ditutup sementara karena alasan lingkungan," kata Agung awal Juli lalu. Selain itu, ada faktor batu bara dari Rusia yang mulai memasuki pasar Asia dan perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha