Rupiah Terus Melemah, Perbankan Perlu Jaga Risiko Kredit Bermasalah

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Febrina Ratna Iskana

6/8/2019, 19.06 WIB

"Intinya risiko nilai tukar perlu dibatasi supaya tidak mempengaruhi portofolio kredit perbankan," kata Ekonom Permata Bank Josua Pardede.

rupiah, perbankan
Arief Kamaludin|Katadata
Ilustrasi, uang rupiah. Pelemahan rupiah memicu resiko kredit perbankan.

Kurs rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp 14.300 per dolar AS pada Selasa (6/8) pagi. Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah bisa memberikan risiko kredit sehingga perbankan perlu melakukan mitigasi risiko kredit. 

Mitigasi risiko perlu dilakukan terutama pada portofolio kredit yang memiliki eksposur risiko nilai tukar. Khususnya, bagi debitur yang memiliki kewajiban pinjaman dalam bentuk valuta asing, namun mendapatkan penerimaan dalam bentuk rupiah. "Intinya risiko nilai tukar perlu dibatasi supaya tidak mempengaruhi portofolio kredit perbankan," katanya saat dihubungi Katadata.co.id, Selasa (6/8).

(Baca: Tiongkok Picu Perang Mata Uang, Rupiah Loyo ke 14.276 per Dolar AS)

Kepala Ekonom BCA David Sumual ketika dihubungi secara terpisah juga menyatakan perbankan perlu memitigasi risiko yang mungkin timbul dari pelemahan rupiah akibat perang dagang AS-Tiongkok. "Bisa dimitigasi melalui pemantauan cash flow, perkembangan usaha secara keseluruhan ketika kredit diperlukan, hingga meningkatkan early warning," ujar David.

Pihaknya pun terus memantau perkembangan kedit perbankan terkait melemahnya nilai tukar rupiah. Sebab, nilai kredit sudah cukup tinggi, biarpun NPL masih relatif rendah. "Kami akan terus pantau perkembangan risiko kredit, sektor mana yang sensitif hingga pengaruh ke kurs juga akan terus dipantau," ujarnya.

Biarpun begitu, dia menilai pelemahan rupiah kali ini sifatnya hanya sementara saja karena adanya sentimen dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor Tiongkok sebesar 10%. Namun pergerakan nilai rupiah sejak awal tahun masih cukup stabil dengan kisaran Rp 14.000 - Rp 14.500 per dolar AS.

"Jadi kalau ada pelemahan dampaknya belum signifikan terhadap kinerja perusahaan di Indonesia," katanya. Bahkan, dia beranggapan pelemahan rupiah disambut baik oleh para eksportir karena dapat membantu harga komoditas ekspor menjadi lebih kompetitif.

(Baca: Perang Dagang AS-Tiongkok Berpotensi Menuju Perang Mata Uang)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan