Setop Tes Produksi Blok Cepu, ExxonMobil Tunggu SKK Migas dan ESDM
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Blok Cepu, ExxonMobil, menunggu permintaan dua instansi untuk menyelesaikan (High Rate Test/HRT) di sumur minyak lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Keduanya adalah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Direktorat Jenderal Migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Vice President Public and Government Affairs, ExxonMobil Indonesia Azi Alam menyampaikan, pekerjaan HRT di Lapangan Banyu Urip saat ini masih berlangsung. Tes ini dilakukan Exxon guna memastikan kinerja sumur minyak di lapangan tersebut.
Tes tersebut akan memastikan produksi maksimal dan kesiapan fasilitas tanpa penambahan investasi. Apalagi SKK Migas ingin meningkatkan produksi di Lapangan Banyu Urip hingga 225 ribu barel minyak per hari (bopd).
"Sampai data yang dikumpulkan mencukupi atau ada potensi integritas keselamatan dan keandalan fasilitas produksi," ujar Azi saat dihubungi Katadata.co.id Selasa (6/8).
(Baca: ExxonMobil Tes Produksi Blok Cepu di Atas 220 Ribu Barel Per Hari)
Azi mengatakan apabila Exxon dapat berproduksi secara aman, perusahaan dapat melanjutkan proses revisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dengan dukungan penuh dari SKK Migas. Selain itu, Azi juga menambahkan tak ada dampak yang ditimbulkan dari proses uji coba ini.
"Tidak ada dampak tambahan terhadap lingkungan dan sosioekonomi dari HRT ini," ujarnya.
Mei lalu, ExxonMobil pernah menyatakan jika produksi terus ditingkatkan, maka cadangan migas di Lapangan Banyu Urip memang akan berkurang. Namun, perusahaan asal Amerika Serikat itu telah melakukan eksplorasi dan menemukan cadangan pengganti (recoverable reserve) hingga 823 juta barel. Ini lebih tinggi dari rencana pengembangan (PoD) yang sebesar 450 juta barel.
(Baca: ExxonMobil Pimpin Temuan Cadangan Migas Terbesar Dunia di 2019)
Dari data SKK Migas, hingga semester I 2019 realisasi produksi minyak siap jual (lifting) ExxonMobil di Blok Cepu mencapai 216.761 barel minyak per hari (bopd) atau 100% dari target lifting APBN. Namun, lifting minyak secara keseluruhan belum mencapai target lantaran produksi dari blok lainnya belum optimal.
