Imbas Perang Dagang, Pengusaha Khawatir Menghantam Ekspor Manufaktur

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ekarina

7/8/2019, 14.41 WIB

Yuan melemah imbas dari perang dagang. Pengusaha khawatir ekspor manufaktur Indonesia semakin tidak kompetitif.

Imbas Perang Dagang, Pengusaha Khawatir Ekspor Manufaktur Terpukul
Arief Kamaludin|KATADATA

Pelemahan mata uang Yuan Tiongkok di tengah memanasnya perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) dikhawatirkan menimbulkan bencana bagi ekspor manufaktur Indonesia. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, kondisi tersebut bisa berdampak pada meningkatnya biaya ekspor manufaktur, hingga penurunan daya saing produk ekspor. 

"Untuk ekspor produk manufaktur ini bisa menjadi bencana. Industrialisasi kita terancam stagnan atau bahkan bisa de-industrialisasi," kata dia kepada katadata.co.id, Rabu (8/7).

Shinta menuturkan, pelemahan yuan berdampak pada jatuhnya nilai tukar rupiah, situsai yang sama terjadi pada sejumlah mata uang Asia lainnya (Lihat Databoks di bawah ini). Hal tersebut merupakan respons wajar oleh pasar terhadap pelemahan yuan dan kebijakan Tiongkok.

(Baca: Dibayangi Kekhawatiran Perang Dagang, Harga Minyak Kembali Anjlok)

 

Namun, biaya ekspor manufaktur akan ikut terpengaruh. Pelemahan mata uang Garuda bisa menyebabkan biaya komponen atau bahan baku impor, biaya produksi, dan harga jual di pasar internasional melonjak, meskipun pengusaha melalukan efisiensi. Akibatnya, Indonesia akan semakin sulit mengejar daya saing global.

Hal ini juga diperparah dengan melemahnya permintaan pasar global akibat memanasnya  perang dagang. Sedangkan jumlah pemain di pasar global tidak berubah. "Dalam mekanisme pasar, supplier yang tidak kompetitif akan tersingkir," ujarnya.

Dengan gambaran kondisi tersebut, ekspor manufaktur Indonesia menjadi tidak kompetitif di pasar internasional. Jika kondisi tersebut tidak segera diatasi, pertumbuhan industri dalam negeri dapat terganggu.

(Baca: Efek Devaluasi Yuan Sementara, Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat)

Dia pun khawatir banyak pelaku usaha dalam negeri kembali mengekspor komoditas mentah. Sebab untuk memproduksi produk olahan, biayanya lebih tinggi. Oleh karena itu, Shinta berharap pemerintah dapat menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah pelemahan yuan.

Pengusaha meminta pemerintah dapat mendorong kebijakan yang dapat menopang rupiah kembali ke posisi 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS). "Ini perjuangan sulit tapi harus kita upayakan sebaik mungkin," katanya.

Mata uang yuan sempat anjlok 2,47% dalam tiga hari perdagangan dengan ditutup pada level 7,05 per dolar pada Senin (5/8). Ini merupakan level terlemah dalam 11 tahun dan memicu kecemasan akan terjadinya perang mata uang. “Tiongkok menurunkan nilai mata uangnya ke level terendah sepanjang sejarah. Ini namanya memanipulasi mata uang,” kata Presiden AS Donald Trump.

(Baca: Perang Mata Uang, Yuan Jadi Senjata Tiongkok Lawan Trump)

Konflik dagang dua negara tersebut kembali memanas setelah Trump melontarkan ancaman penerapan tarif pada impor barang  Tiongkok senilai US$ 300 miliar. Alih-alih mengancam, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini justru membalas dengan membatalkan pembelian produk pertanian dari negeri Paman Sam.

Tak hanya itu, Beijing juga tidak akan menghapus tarif impor pada produk pertanian AS yang dibeli setelah 3 Agustus 2019. 

Hal ini dianggap Tiongkok sebagai pelanggaran serius atas negosiasi dagang Trump dengan Presiden Xi Jinping beberapa waktu lalu. "Perusahaan Tiongkok terkait telah menghentikan pembelian produk pertanian AS," demikian dilansir kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, Selasa (6/8).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha