Aksi Beli Balik Saham Belum Bisa Tahan Penurunan Harga Saham Matahari

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Martha Ruth Thertina

8/8/2019, 19.04 WIB

Matahari telah melakukan buyback 5,5% saham. Namun, harga saham semakin jeblok, turun 50% dari posisi tertingginya tahun ini.

Matahari Buyback Saham
Arief Kamaludin|KATADATA
Matahari Departemen Store di kawasan Pasar Baru, Jakarta

PT Matahari Department Store Tbk. masih melanjutkan pembelian kembali (buyback) sahamnya. Langkah ini bertujuan untuk menyokong harga saham yang anjlok di tengah penurunan kinerja bisnis. Meski begitu, penurunan harga saham belum mampu dibendung.

Pemegang saham telah menyetujui buyback sebanyak-banyaknya 7% saham atau maksimal 87.537.542 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Oktober 2018. Belakangan, pemegang saham memberikan persetujuan penambahan buyback menjadi sebanyak-banyaknya 10% atau 291.791.808 saham, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan April 2019.

Direktur Legal dan Sekretaris Perusahaan Matahari Miranti Hadisusilo mengatakan, perusahaan sudah melakukan buyback atas 5,5% saham hingga Juni 2019. Perusahaan memiliki batas waktu hingga Oktober 2020 untuk melakukan buyback. “Sampai sekarang masih berjalan,” kata dia saat ditemui di Jakarta, Kamis (8/8).

(Baca: Kinerja Keuangan Hero dan Retail Grup Lippo Jeblok di Semester I 2019)

Harga saham perusahaan berkode bursa LPPF tercatat bergerak turun sejak pertengahan 2016, setelah menembus level tertinggi 21.000. Saat persetujuan buyback pada 8 Oktober 2018, harga saham tercatat di level 6.700. Harga saham sempat anjlok hingga ke level 4.300 pada November 2018, namun berangsur naik hingga tembus 7.250 pada akhir Januari 2019. Ini menjadi level tertinggi sepanjang tahun ini.

Setelah itu, harga saham naik-turun sekitar dua pekan sebelum jatuh dan belum juga rebound hingga Agustus 2019 ini. Saat berita ini ditulis, Kamis (8/8), harga saham ditutup pada level 3.290. Ini artinya, harga saham telah anjlok 54,6% dari posisi tertingginya tahun ini.

(Baca: Tahan Ekspansi Gerai, Matahari Anggarkan Belanja Modal Rp 150 M)

Miranti menjelaskan, perusahaan mengajukan penambahan buyback pada April 2019 lalu untuk merespons penurunan ini. "Karena saham kami sudah under value," kata dia. Namun, ia mengakui, penurunan saham belum bisa terbendung. "Saya melihat ini di luar kuasa kami, memang saat ini pasarnya sedang turun. Retail juga turun," kata dia.

Pada Semester I 2019, Matahari membukukan pendapatan sebesar Rp 5,95 triliun atau naik 0,6% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan laba bersihnya turun 13,43% menjadi Rp 1,61 triliun. Penyebabnya, kenaikan beban pokok penjualan sebesar 2,78% dan beban usaha 8,17%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN