Cadangan Devisa Juli 2019 Naik Berkat Utang dari ADB US$ 500 Juta

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

8/8/2019, 15.53 WIB

Total penarikan utang luar negeri pemerintah hingga Juli 2019 mencapai US$ 2 miliar, termasuk utang dari Bank Dunia sebesar US$ 1 miliar.

Ilustrasi uang dolar Amerika Serikat (AS). Hingga Juli 2019 pemerintah telah mencairkan utang dari lembaga keuangan dunia hingga US$ 2 miliar untuk membiayai defisit.
Donang Wahyu|KATADATA
Ilustrasi uang dolar Amerika Serikat (AS). Hingga Juli 2019 pemerintah telah mencairkan utang dari lembaga keuangan dunia hingga US$ 2 miliar untuk membiayai defisit.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2019 meningkat sebesar US$ 2,1 miliar dari US$ 123,8 miliar menjadi US$ 125,9 miliar. Adapun kenaikan cadangan devisa salah satunya disebabkan penarikan pinjaman pemerintah yang cukup besar yakni mencapai setengah miliar dolar Amerika.

Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman mengkonfirmasi adanya penarikan pinjaman multilateral pemerintah tersebut. "Di bulan Juni itu ada pemasukan pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) sebesar US$ 500 juta yang masuk ke laporan cadangan devisa bulan Juli," ucap dia di kantornya, Jakarta, Kamis (8/8).

Maka dari itu, total pinjaman yang telah diberikan ADB kepada pemerintah Indonesia hingga kini telah berjumlah US$ 1 miliar. Tak hanya dari ADB, Luky juga menjelaskan bahwa Indonesia juga menerima pinjaman dengan total US$ 1 miliar dari Bank Dunia.

(Baca: Pemerintah Tarik Utang, Cadangan Devisa Juli Naik US$ 2,1 Miliar )

Sehingga, pinjaman pemerintah tersebut menjadikan total keseluruhan penarikan hutang kini sebesar US$ 2 miliar hingga Juli 2019. "Dengan adanya pelebaran defisit, kita masih fleksibel. Kalau market tertekan kita bisa mengambil lebih banyak pinjaman. Jadi ini salah satu strategi kita dalam mengelola sumber pembiayaan," kata Luky.

Untuk kebijakan utang di tahun depan, ia pun belum mau menjelaskan dengan rinci. Namun, hal ini akan bergantung pada kondisi perekonomian Indonesia. Apalagi menurut dirinya, saat ini pasar keuangan menjadi lebih volatile atau mudah berubah.

"Market ini jadi acuan. Tahun ini market sangat volatile, swingnya cukup besar, ada sentimen apa langsung swing positif atau negatif," ujarnya. Maka dari itu, ia mengungkapkan, jikalau nantinya akan terjadi gejolak yang cukup besar, kemungkinan pemerintah akan melakukan penarikan utang dari awal tahun.

(Baca: BI Umumkan Cadangan Devisa Naik US$ 3,5 M pada Juni, Rupiah Menguat)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN