Mengacu kepada OSS, Pemegang Saham Matahari Setuju Ubah Anggaran Dasar

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Ratna Iskana

8/8/2019, 16.42 WIB

Dalam RUPS April lalu, Matahari telah meminta persetujuan perubahan anggaran dasar, namun mayoritas pemegang saham tidak menyetujuinya.

matahari departemen store
Katadata
Pengunjung berbelanja di Matahari Departemen Store, Pasar Baru, Jakarta, Jumat (11/04). Matahari akhirnya mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk merubah anggaran dasar.

PT Matahari Departemen Store Tbk (LPFF) mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk mengubah dasar anggaran yang akan disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2018, tentang pelayanan izin berusaha terintegrasi secara elektronik (OSS). Director Corporate Secretary and Legal Matahari Miranti Hadisusilo menjelaskan, pemerintah telah mewajibkan seluruh perusahaan membuat izin berusaha melalui OSS.

Setelah memiliki izin melalui OSS, perusahaan akan mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB). Maka anggaran dasar perseroan juga turut berubah sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan.

Apabila perseroan telah memiliki NIB namun tidak mengubah dasar anggarannya, maka pemerintah akan mencabut izin usaha. "Pemerintah memberikan waktu sampai Oktober tahun ini, kalau tidak izin usahanya bisa dicabut," ujarnya, saat ditemui di Jakarta, Kamis (8/8).

(Baca: Buka-Tutup Gerai, Strategi Bertahan di Tengah Ketatnya Persaingan)

Sebelumnya Matahari telah mengadakan RUPS pada April lalu. Tujuannya meminta persetujuan pemegang saham untuk mengubah anggaran. Namun tidak sampai setengah dari pemegang saham yang hadir menyetujui perubahan anggaran. 

Menurut Miranti, Perseroan memang kesulitan mendapatkan persetujuan perubahan anggaran dasar. Apalagi 80% pemegang saham LPFF berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan proses untuk menginformasikan mengenai aturan baru tersebut. Adapun, perubahan anggaran perusahaan terakhir kali diubah pada 2014.

"Ada yang asing juga, ada yang perorangan, mungkin mereka tidak mengerti untuk apa melakukan perubahan anggaran dasar," kata Miranti.

Sebagai informasi emiten retail busana ini telah membukukan pendapatan pada semester II sebesar Rp 5,95 triliun atau naik 0,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Sedangkan laba bersihnya turun 13,43% menjadi Rp 1,61 triliun. Ini karena naiknya beban pokok penjualan sebesar 2,78% dan beban usaha 8,17%.

(Baca: Tahan Ekspansi Gerai, Matahari Anggarkan Belanja Modal Rp 150 M)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan